:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Parkour Practitioner, Industrial Engineer, Sociopreneur Wannabe and I'm just human being who need to learn more and sharing everything useful in life.

Kamis, 31 Agustus 2017



Artikel kali ini adalah penutup dari artikel-artikel sebelumnya, dari hari ke-1 sampai hari ke-14 kemarin kita sudah mengetahui tentang Energi Terbarukan yang potensinya sangat besar di Indonesia. Selain itu, kita juga sudah tahu cara memelihara Energi Tak Terbarukan dimana energi jenis ini akan menjadi hal yang langka jika kita pakai terus menerus. Sampai pada titik dimana kita membahas tentang Konservasi Energi melalui upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk menghemat penggunaan energi dan terakhir saya telah memaparkan beberapa tantangan serta Isu tentang Energi yang sedang dan akan dihadapi oleh Indonesia.

Indonesia di takdirkan memiliki sumber daya alam melimpah dengan potensi luar biasa mulai dari migas, mineral batubara, hutan serta lautnya. Namun ada pendapat sederhana yang menyatakan bahwa negara yang memiliki sumber daya besar akan memiliki tingkat keberhasilan besar pula, jelas sekali pendapat tersebut tidak terbukti dalam konteks Negara kita, Indonesia.

Indonesia sudah tujuh puluh tahunan merdeka, namun kedaulatan energi kita masih belum dinikmati rakyat secara nyata, rata dan adil. Lihat saja Kalimantan yang merupakan daerah penghasil energi nasional terbesar dengan Blok Mahakamnya, namun ironis, justru disana masih sering terjadi pemadaman listrik. Belum lagi beberapa kasus di Sumatera Utara, di mana terjadi kurangnya stok energi untuk menyebabkan beberapa industri gulung tikar.

Sekarang pertanyaan yang perlu kita kita renungkan adalah...

Benarkah saat ini Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi energi nasional secara mandiri?

Benarkah Indonesia dapat dengan nyaman mengatur kebutuhan rakyatnya akan energi?

Sekarang saya akan mengajak kalian untuk memikirkan sebuah gagasan agar ide dan gagasan tersebut daapat menguatkan kembali sektor Energi bangsa kita. Indonesia seharusnya dapat berdikari dan tentunya semua elemen masyarakat Indonesia juga seharusnya dapat merasakan 100% potensi energi di negara kita. Sebenarnya ada banyak gagasan menarik yang saya temukan terkait dengan tujuan yang saya sebutkan tadi.

Tapi saya menemukan 10 gagasan yang saya rasa ‘Masuk Akal’ untuk diterapkan di Indonesia, melihat kondisi bangsa kita saat ini. Berikut ini adalah gagasan-gagasan tentang cara menguatkan kembali sektor Energi di Indonesia berdasarkan dari penelitan oleh Tim Riset McKinsey & Company pada tahun 2014 yang lalu.

1. Menghimpun Kemauan Politik (Political Will) Untuk Mengurangi Subsidi Energi

Sumber: http://retorics.blogspot.co.id

Angka subsidi bahan bakar minyak Indonesia sudah marak tersebar dimedia-media nasional, yakni lebih dari $30 miliar setiap tahunnya. Jika kita bandingkan, jumlah tersebut melampaui pos pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan dan pendidikan. Jumlah itu juga hampir setara dengan biaya pembangunan 31.000 kilometer jalan baru, 2.000 rumah sakit kelas C, atau tiga kilang minyak kelas dunia per tahun. Jika kondisi ini terus berlangsung, Tim Riset McKinsey&Company memperkirakan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk subsidi energi Indonesia akan mencukupi semua kebutuhan infrastruktur antara tahun 2011 hingga 2025 yaitu sekitar $200 miliar sesuai dengan masterplan pembangunan ekonomi pemerintah.

Upaya untuk mengurangi subsidi tentunya memerlukan kemauan politik. Kita pasti tahu bahwa memang ada beberapa masyarakat Indonesia yang masih memerlukan subisidi. Namun demikian, penyaluran subsidi perlu diberikan langsung hanya kepada mereka yang membutuhkan, untuk menjamin bahwa mereka yang membutuhkan terlindungi, sementara dana yang vital juga dapat direalokasikan untuk pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur yang akan mengakselerasi pertumbuhan Indonesia dalam jangka panjang nantinya.

2. Mengatasi Akar Permasalahan Dibalik Lambatnya Penambahan Kapasitas Pembangkit Listrik

Sumber: http://www.nttonlinenow.com/

Kondisi industri listrik di Indonesia masih jauh dari optimal, pemerintah memberikan subsidi berjumlah besar kepada konsumen guna menjaga harga tetap rendah dan akibatnya pendapatan produsen listrik saat ini hanya dapat menutupi dua pertiga biaya produksi. Program untuk meningkatkan kapasitas pembangkit mengalami keterlambatan.

Banyak negara telah berhasil memisahkan peran regulator dan operator dalam sektor kelistrikan dan memperoleh manfaat yang cukup signifikan baik untuk pemain industri maupun konsumen. Pemberlakuan perbedaan tarif atau penetapan harga secara regional juga dapat dipertimbangkan. Sebagai contoh, pemerintah pusat dapat memberikan subsidi kepada masyarakat kelas bawah dengan membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk melakukan penambahan (top up) nilai subsidinya di daerahnya masing-masing jika dirasa perlu.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Indonesia mencanangkan tujuan untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik dari 42 GW pada akhir tahun 2013 menjadi 90 GW pada tahun 2022, dan di saat yang bersamaan juga meninggalkan penggunaan bahan bakar minyak yang mahal. Dalam menjawab tantangan tersebut sebuah inisiatif telah mulai dilakukan oleh Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan Kementerian Keuangan. Inisiatif tersebut perlu didukung, dipertahankan, dan diperkuat, serta idealnya diberikan mandat untuk memastikan proses pelaksanaannya.

3. Memperkenalkan Insentif Yang Sesuai (Tailored Incentives) Untuk Eksplorasi Dan Pengembangan Minyak Dan Gas, Termasuk Minyak Non-Konvensional

Sumber: http://bimg.antaranews.com

Indonesia memerlukan penemuan besar dan pengembangan baru dalam sektor minyak dan gas, tetapi saat ini pemerintah kita belum melakukan investasi yang memadai dalam hal eksplorasi dan pengembangan dalam sektor energi ini. Menurut Tim Riset McKinsey&Company bahwa data telah menunjukkan realitas yang memprihatinkan dimana cadangan minyak telah berkurang dari 5,6 miliar barel pada tahun 1992 menjadi 3,6 miliar barel pada saat ini.

Meskipun para ahli di bidang industri melihat potensi yang tinggi pada sektor sumber daya di Indonesia, tapi sejumlah tantangan masih menghadang. Rezim fiskal untuk sumber daya konvensional di Indonesia masih merupakan salah satu yang paling memberatkan di dunia.
Hal ini berakibat terhadap berkurangnya daya tarik Indonesia di mata perusahaan lokal maupun asing dibandingkan di negara-negara lain. 

Indonesia perlu mempertimbangkan pemberian insentif secara selektif pada proyek eksplorasi dan pengembangan baru di sektor migas. Malaysia telah berhasil melakukan hal serupa selama beberapa tahun. Sebagai contoh, kontrak baru yang berbasis risk-sharing (berbagi risiko) mampu menarik berbagai perusahaan baru untuk bergabung dalam aktivitas pengembangan cadangan energi.

Untuk mengatasi masalah penurunan produksi, Indonesia perlu melakukan tiga hal yaitu:
  1. Menciptakan insentif tambahan untuk eksplorasi dan pengembangan energi non-konvensional;
  2. Menegakkan semua kontrak hukum dan memperjelas peraturan pelaksanaan;
  3. Menangani kasus korupsi di seluruh lini sistem.


4. Mengakselerasi Pembuatan ‘Cetak Biru’ Infrastruktur Gas Nasional

Sumber: http://beritainternusa.com/

Indonesia pernah menjadi pelopor ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) di era 1970-an dan memproduksi gas yang melebihi kebutuhan pasar dalam negerinya. Indonesia terus melanjutkan ekspor LNG dari fasilitas LNG yang terkenal, seperti Arun, Bontang, dan Tangguh. Apabila melihat kedepan, proyek-proyek utama Hulu di Indonesia juga berada pada sektor gas, seperti misalnya, Donggi Senoro Indonesia Deepwater Development (IDD), Jangkrik, dan Masela.

Gas alam jelas memiliki peran penting untuk masa depan energi Indonesia. Selama dua dekade terakhir, tidak ada ladang gas darat (onshore) baru yang secara signifikan telah dikembangkan untuk menggantikan ladang gas yang menurun produksinya di Jawa Barat, Sumatera Tengah dan Selatan. Sementara itu gas alam diproduksi di Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Saat ini gas tersebut tidak dapat memasok kebutuhan di Pulau Jawa karena kurangnya infrastruktur transmisi termasuk defisit jaringan pipa dan terminal regasifikasi. Sejalan dengan menurunnya sumber gas lokal di Jawa dan Sumatera Selatan, Indonesia akan membutuhkan infrastruktur regasifikasi LNG baru di Jawa dan Bali, bersama dengan jalur pipa transmisi untuk menghubungkan pasar utama di Jawa dengan sumber gas di Indonesia bagian timur. Untuk memenuhi semua ini, investasi yang dibutuhkan akan mencapai sekitar $2 miliar.

Mengakselerasi ‘cetak biru infrastruktur gas’ untuk Indonesia harus menjadi prioritas utama bagi pemerintah.

5. Memperbarui Kilang Lama Secepat Mungkin

Sumber: https://www.merdeka.com

Lima kilang minyak dan gas utama Indonesia mengalami kerugian sekitar $1 miliar per tahun mengacu pada harga pasar saat ini. Seandainya kilang-kilang ini dioperasikan dengan sempurnapun, kelima kilang tersebut masih akan mengalami kerugian dengan nilai yang hampir sama. Penyebabnya adalah konfigurasi teknis kilang tersebut pada saat dibangun yang sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi Indonesia pada saat ini.

Sejumlah faktor seperti usia kilang, teknologi yang masih sederhana, dan fakta bahwa kilang didesain pada saat itu untuk minyak mentah Indonesia yang berupa sweet and light crude oil, konfigurasi kilang-kilang ini tidak lagi sesuai untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Alhasil, harga bensin dan diesel dari kilang-kilang tersebut jauh lebih mahal untuk diproduksi dibandingkan dengan harga produk impor.

Pembaharuan kilang yang ada lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan alternatif untuk membangun kilang baru. Hal ini berpotensi meningkatkan produksi bensin dan solar dua hingga tiga kali lebih besar untuk investasi yang sama. Keuntungan ekonominya akan jauh lebih tinggi daripada proyek greenfield karena memanfaatkan infrastruktur dan lahan yang sudah ada. Pembaharuan ini memiliki potensi untuk menjadi proyek yang bernilai sangat tinggi bagi negara. Selain itu, terdapat pula potensi untuk menggandakan pasokan bahan bakar minyak (BBM) domestik.
  
6. Meningkatkan Mutu Jaringan Distribusi Bahan Bakar

Sumber: http://forum.liputan6.com

Indonesia memiliki salah satu rantai pasokan produk bahan bakar yang paling kompleks di dunia karena kondisi geografis (negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau) dan sebaran penduduknya. Negara juga bergantung pada impor bahan bakar jadi dari pasar regional dan kemungkinan akan terus membutuhkan impor di tahun-tahun mendatang. Indonesia dirasa perlu melakukan investasi secara agresif untuk meningkatkan jaringan infrastruktur bahan bakar, serta fasilitas penyimpanan dan armada tanker demi memastikan keandalan dan efisiensi pasokannya.

Dengan latar belakang tersebut, Indonesia perlu mempertimbangkan tiga hal yaitu:

  1. Melakukan investasi dalam peningkatan kapasitas penyimpanan guna memperoleh keuntungan dari peluang blending dan trading; dan pada saat yang bersamaan juga mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga;
  2. Meneruskan penggunaan teknologi canggih seperti gantry otomatis yang memiliki throughput tinggi, serta manajeman operasi terpusat dengan data real-time;
  3. Mengambil keuntungan dari lokasi geografis dan menjadi pusat alih muatan (trans-shipment hub) dan perdagangan migas, mengikuti jejak Singapura dan Johor.

 7. Investasi Pada Energi Terbarukan

Sumber: https://www.tambang.co.id

Bauran bahan bakar (fuel mix) yang direncanakan di Indonesia dirancang untuk mencapai produksi berbiaya termurah dengan memaksimalkan persentase batubara dan gas dalam bauran tersebut. Kontribusi batubara dan gas diproyeksikan untuk mencapai 84% dari total produksi listrik di tahun 2017. Namun terdapat pula kesempatan untuk meningkatkan kontribusi dari energi terbarukan dalam fuel mix Indonesia, khususnya dengan geothermal, hidro, dan biomassa.

Potensi geothermal diperkirakan akan mencapai 27 GW dibanding kapasitas terpasang saat ini yang sekitar 1 GW, sedangkan potensi yang belum dimanfaatkan pada hidro di Indonesia sekitar 70 GW. Tenaga surya memiliki potensi yang lebih rendah, namun masih menjanjikan, khususnya di Indonesia bagian timur.

Sejumlah teknologi ini, termasuk biomassa, masih membutuhkan pengembangan teknologi lebih lanjut sebelum mencapai tingkat ekonomis (economically viable). Energi terbarukan lain seperti tenaga surya masih belum kompetitif dalam skala besar dan untuk mencapai paritas grid (grid parity), namun bisa menjadi pilihan ekonomis untuk pembangkit listrik yang tersebar dibandingkan dengan bahan bakar minyak dan distilat yang sangat mahal (keduanya memiliki biaya energi yang disetarakan di kisaran 2.300 - 2.500 Rupiah/kilowatt).

Energi geothermal telah kompetitif di beberapa kawasan, namun kenaikan tarif atas kebutuhan geothermal perlu disepakati guna memberi insentif kepada produsen hulu untuk berinvestasi, dan perlu dibarengi juga dengan upaya percepatan lisensi dan perizinan. Guna mendorong adopsi teknologi energi terbarukan secara aktif, pemerintah dapat memperkenalkan feed-in-tariff per wilayah dan mempercepat penerbitan lisensi dan perizinan.

8. Investasi Pada Gas Untuk Transportasi

Sumber: http://www.mcicoach.com

Urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang pesat mendorong pertumbuhan yang signifikan pada kendaraan transportasi di kota-kota besar Indonesia. Hal ini menyebabkan ekspansi yang signifikan atas subsidi bahan bakar karena kendaraan tersebut mengonsumsi bensin dan solar serta menyebabkan polusi udara di perkotaan. Penggunaan compressed natural gas (CNG) untuk kendaraan adalah pilihan yang menarik yang dapat mengurangi subsidi dan meningkatkan kualitas udara.

Hal ini telah berhasil diimplementasikan di beberapa kota di Asia, termasuk New Delhi, Mumbai, dan Bangkok. Di Indonesia, hal ini akan membutuhkan pendekatan terpadu yang menggabungkan beberapa elemen diantaranya:

  1. Insentif ekonomi bagi konsumen, produsen, dan pemasar, yaitu diperlukannya penentuan harga optimal untuk solar agar konsumen dapat memulihkan investasi yang mereka keluarkan dengan mengonversi kendaraan dalam kurun waktu 12 bulan;
  2. Produsen dan pemasok mendapatkan laba investasi yang memadai;
  3. Pemasar mendapatkan margin yang sesuai;
  4. Dukungan peraturan yang mewajibkan kendaraan transportasi untuk beralih menggunakan CNG; dan
  5. Menyiapkan infrastruktur penting yang memungkinkan pemasangan converter kit dan pompa bensin untuk mengisi bahan bakar di lokasi yang mudah terjangkau.

Indonesia juga perlu mematok target untuk mengonversi sekitar 250.000 kendaraan umum dalam lima tahun mendatang. Diperkirakan langkah ini dapat menghemat subsidi negara hingga $2 miliar.

9. Mempromosikan Kendaraan Listrik Di Kota-Kota Besar

Sumber: http://assets.kompasiana.com

Kendaraan listrik (electric vehicles atau EV) dinilai dapat menghasilkan pengaruh yang signifikan sebagai salah satu opsi transportasi darat. Hal ini didasarkan pada efisiensi energi yang unggul, dampak lingkungan yang positif dan potensi bisnis yang mendukung. EV sangat relevan bagi masyarakat yang memiliki banyak jarak tempuh per tahun namun terbatas di perkotaan.

Taksi adalah salah satu contoh yang bagus karena menempuh ribuan kilometer per tahun, namun masih berada dalam jangkauan yang dekat dengan stasiun pengisian. EV juga memiliki emisi karbon dioksida yang jauh lebih rendah, dan beremisi nol untuk polutan lainnya (nitrogen oksida, sulfur oksida, partikel). EV sangat dimungkinkan sebagai bentuk transportasi alternatif di kota-kota besar seperti Jakarta yang berpenduduk sangat terkonsentrasi dan memiliki proporsi tinggi untuk perjalanan jarak pendek.

Dengan kemajuan teknologi baterai terbaru, kini kinerja, keamanan dan biaya baterai telah menjadi lebih terjangkau. Karena sistem subsidi yang kurang efisien di Indonesia, peralihan ke EV akan membantu mengurangi beban subsidi (mobil akan lebih hemat energi dengan menggunakan tenaga listrik, bukan solar/bensin). Potensi penghematan subsidi adalah sebesar Rp 800 miliar untuk setiap lot 100.000 kendaraan yang dikonversi dari bensin atau solar ke listrik.

10. Membangun Kapabilitas Dan Pemimpin Lokal Yang Handal

Sumber: https://www.youtube.com

Indonesia adalah pemimpin energi di masa lalu. Sebagai contoh, pembangunan sistem Production Sharing Contract untuk mengembangkan sumber daya hulu dan didirikannya fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia pada era 1970-an.

Di masa mendatang, teknologi, kapabilitas, dan pemimpin adalah faktor utama untuk memenangkan persaingan. Sebagai contoh, Indonesia memerlukan akses teknologi yang lebih mutakhir serta para ahli teknis guna meningkatkan produksi di ladang yang telah siap dengan menggunakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Improved Oil Recovery (IOR).

Hal ini serupa dengan teknologi non-konvensional seperti Coal Bed Methane (CBM) dan ekstraksi shale gas. Peningkatan mutu kilang membutuhkan kemampuan eksekusi proyek berskala besar yang belum pernah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia. Teknologi batubara baru, termasuk clean coal dan coal-to-liquids memiliki potensi untuk memperbarui kembali industri ini.

Dalam merancang kebijakan tentu akan ada banyak opsi pilihan yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, yang dipilih tentulah kebijakan yang benar-benar dirasakan kebermanfaatannya dan keberlanjutannya untuk masyarakat dan juga Indonesia pada masa depan nanti (sustainable).

Kita harus percaya dan optimis bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam dan manusia yang memadai untuk mencapai aspirasi pertumbuhan ekonominya. Sebagai warga negara yang baik, kita berharap bahwa ide-ide di atas akan membantu Indonesia untuk mewujudkan sejumlah potensi tersebut. Semoga saja gagasan-gagasan yang baik yang telah dipaparkan dalam artikel ini dapat menjadi masukan kepada pemerintah dalam merancang program-program yang dapat menguatkan kembali sektor Energi di Indonesia. Indonesia sudah selayaknya menjadi negara maju dan memiliki ‘Power’ tidak hanya di level asia tenggara tapi juga di kanca dunia.

Untuk data dan informasi yang lebih akurat terkait dengan Energi di Indonesia, kalian dapat mengunjungi website resmi Kementerian ESDM RI berikut ini ya (www.esdgm.go.id).

Semoga artikelnya bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel menarik lainnya!

#15HariCeritaEnergi

Daftar Pustaka

Budiman, A., Das, K., Mohammad, A., Tee Tan, K., & Tonby, O. (2014). Sepuluh gagasan untuk menguatkan kembali sektor energi Indonesia. McKinsey&Company.







Rabu, 30 Agustus 2017


Pada artikel sebelumnya kita sudah banyak membahas tentang Energi Terbarukan sebagai energi alternatif pengganti energi-energi fosil, lalu kemarin juga kita sudah membahas tentang memaksimalkan pemanfaatan LNG sebagai subtitusi dari Bahan Bakar Solar atau Diesel. Sekarang saatnya saya mengajak kalian membahas tentang subisidi BBM di Indonesia. Apakah subsidi BBM tersebut masih efektif diberikan kepada masyarakat?

Sumber: https://superthowi.wordpress.com

Memang kondisi ekonomi dunia saat ini berada pada posisi tiga kejadian penting yaitu harga minyak dunia yang turun, dollar yang menguat dan revolusi shale gas oleh Amerika Serikat. Harga rata-rata minyak mentah dunia (crude oil price) beberapa tahun belakangan ini cenderung berfluktuasi dengan tolak ukur mengalami penurunan harga. Jadi penurunan harga minyak mentah dunia ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu salah satunya karena revolusi shale gas di Amerika Serikat. Shale gas adalah gas alam yang diperoleh dari serpihan batu shale atau tempat terbentuknya gas bumi.

Produksi Shale gas telah menyebabkan penurunan harga sumber energi lainnya. Karena ekspansi dan persediaan sumber energi Shale gas yang cukup melimpah serta Shale gas dianggap mampu menurunkan biaya produksi. Produksi Shale gas juga mampu meningkatkan ketahanan energi serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang mahal yaitu minyak bumi dan batubara. Revolusi shale gas ini akan berdampak sangat besar bagi Amerika Serikat terutama menguntungkan dalam membuka lapangan pekerjaan baru untuk negara tersebut.

Faktor lain yang menjadi penyebab turunnya harga minyak dunia yaitu karena adanya peningkatan produksi oleh negara yang tergabung dalam OPEC (Organization of The Petroleum Exporting Countries). Ketika produksi minyak mengalami peningkatan sementara permintaan minyak tidak mengalami perubahan atau konstan maka akan terjadi kelebihan produksi minyak yang mengakibatkan harga minyak tersebut akan turun (teori supply & demand).

Dalam sebuah siklus perekonomian hampir disetiap aspek kegiatan ekonomi membutuhkan energi atau bahan bakar minyak baik itu digunakan untuk menjalankan mesin produksi, penghasil energi listrik dan juga sarana transportasi yang dapat dijadikan sebagai pengalokasi barang dan jasa. Ketika terjadinya fluktuasi harga minyak mentah dunia maka akan berdampak kepada perubahan harga bahan bakar minyak di Indonesia karena mengikuti harga minyak mentah dunia. Pada saat kondisi sekarang ini apabila produksi minyak mentah berlimpah sementara kebutuhan minyak tidak bertambah atau justru berkurang, maka harga minyak cenderung turun.

Sumber: International Energy Agency

Pada gambar diatas sudah terlihat jelas bahwa grafik harga minyak mentah dunia dari tahun 2000 sampai 2016 mencapai puncak harga tertinggi pada tahun 2008, namun mengalami penurunan harga yang signifikan dari tahun 2014 sampai 2016 akhir. Mengingat pentingnya keberadaan bahan bakar minyak dalam kegiatan perekonomian, maka pemerintah perlu melakukan intervensi dan mengendalikan tingkat harga bahan bakar minyak agar bisa dibeli oleh masyarakat banyak.

Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan oleh pemerintah bagi penyediaan bahan bakar minyak yaitu berupa pemberian subsidi. Subsidi bahan bakar minyak yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia berawal pada masa pemerintahan orde baru dan sampai saat ini subsidi terhadap bahan bakar minyak masih diberlakukan, hanya saja subsidi yang diberikan oleh pemerintahan sekarang dikurangi.

Sumber: International Energy Agency

Pada gambar diatas menunjukan grafik subsidi bahan bakar minyak dan energi Indonesia dari tahun 2005 sampai 2016. Dari grafik tersebut menunjukan rasio antara subsidi bahan bakar minyak yang diberikan oleh pemerintah dan subsidi energi. Nilai rasio subsidi bahan bakar minyak dan subsidi energi berubah menjadi besar ketika terjadinya krisis ekonomi global.

Implikasi dari peningkatan harga minyak di pasar dunia, mengakibatkan pemerintah mengambil kebijakan menaikan harga BBM didalam negeri. Pada akhir tahun 2007 sampai dengan awal 2008, perekonomian dunia menghadapi krisis energi yang memicu peningkatan harga minyak dunia. Harga minyak dunia meningkat dari kisaran 60-65 US$ per barrel pada pertengahan tahun 2007 melonjak hingga di atas 100 US$ per barrel pada awal tahun 2008.

Di dalam negeri kenaikan harga minyak dunia direspon oleh pemerintah dengan menaikan harga BBM jenis premium dan solar yaitu dari IDR. 4000/liter menjadi IDR. 6000/liter. Peningkatan harga BBM tersebut menjadi kondisi yang sangat serius bagi pemulihan perekonomian nasional dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kebijakan subsidi BBM yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia membuat anggaran subsidi energi di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahun cenderung mengalami kenaikan. Besaran subsidi BBM dinilai menjadi alasan pokok tidak stabilnya keseimbangan primer APBN dari sisi pengeluaran sehingga dapat menimbulkan defisit anggaran pemerintah. Komsumsi yang berlebihan membuat Indonesia kini menjadi negara pengimpor minyak yang sangat tergantung dari fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Kenaikan harga BBM bersubsdi yang sering berfluktuasi serta di ikuti terdepresiasinya nilai mata uang rupiah yang akan berdampak kepada kerentanan terhadap kebijakan subsidi BBM di Indonesia. Kecenderungan subsidi yang meningkat tajam mencerminkan juga pada depresiasi rupiah yang ikut tajam.

Mengkonsumsi minyak yang bersubsidi mengarahkan kita pada peningkatan permintaan impor dan pengurangan jumlah minyak yang tersedia untuk di ekspor, sehingga subsidi dapat mengakibatkan memburuknya neraca pembayaran dan dapat mempengaruhi negara pada peningkatan ketergantungan impor minyak.

Ketakutan masyarakat Indonesia jika subsidi BBM dihapuskan adalah hal yang wajar saat ini, karena mereka khawatir hal tersebut akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Namun, dalam APBN 2017 sesungguhnya subsidi BBM Premium telah dievaluasi dan ternyata tidak tepat sasaran, maka dari hasil evaluasi tersebut pemerintah merancang ulang kebijakan subsidi BBM dan kemudian lahirlah bentuk subsidi yang benar-benar tepat sasaran.

Penghapusan dana subsidi BBM bukan berarti dana tersebut dipakai oleh pejabat-pejabat negeri (mungkin saja), melainkan dana tersebut diharapkan dapat dialokasikan pada bidang-bidang yang lebih produktif serta lebih tepat sasaran demi mewujudkan perekonomian Indonesia yang terintegritas serta memajukan kesejahteraan umum sesuai dengan cita-cita negara pada alinea IV Pembukaan UUD NKRI 1945.

Sumber: http://katadata.co.id

Dana subsidi BBM tersebut memang sebaiknya dialihkan pada pembangunan infrastruktur negara. Kita dapat bercemin pada kenaikan harga BBM tahun 2015. Walaupun hanya naik IDR. 2.000,- namun hal tersebut dapat menunjang berbagai pembangunan di negeri kita. Apalagi saat APBN 2017 yang merupakan penyempurnaan pada APBN pada tahun-tahun sebelumnya. Bisa dibayangkan berapa banyak infrastruktur yang dapat pemerintah perbaiki.

Selain itu, subsidi BBM akan dialokasikan juga untuk mengoptimalkan pemberian subsidi di bidang lain, yaitu menunjang kesejahteraan masyarakat miskin seperti pembiayaan Kartu Indonesia Sejahtera, Beras Sejahtera (Rastra), Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) serta berbagai skema kesejahteraan lainnya.

Yang paling menggembirakan adalah pada alokasi dana desa. Berdasarkan dokumen Nota Keuangan (NK) dan RAPBN 2017, alokasi dana desa tahun 2017 naik 27,7% (IDR. 47 triliun) dari tahun 2016 dengan mencapai IDR. 60 triliun (IDR. 800 juta/desa).


Persoalan subsidi BBM memang tak akan pernah habis untuk dituntas. Dengan beragam persoalan yang turut mempengaruhi kebijakan penarikan subsidi BBM, sudah seharusnya setiap pengusaha mentargetkan poin-poin penting demi menstabilkan usaha yang sedang dikelola. Di saat bersamaan, kontrol terhadap pemakaian BBM bersubsidi wajib diterapkan secara ketat sebab yang akan dirugikan adalah masyakarat yang notabene membutuhkan subdisi BBM.

Untuk mendapatkan informasi dan data yang lebih akurat tentang Energi, kalian bisa baca informasi selengkapnya di www.esdm.go.id ya.

Terimakasih atas supportnya sampai hari ke-14 ini guys!

#15HariCeritaEnergi

Selasa, 29 Agustus 2017


Seperti yang sudah saya jelaskan pada artikel-artikel sebelumnya, energi merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Dimana kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan akan energi untuk kelangsungan kehidupan umat manusia mulai dari kebutuhan industri, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga. Berbicara tentang energi tidak lepas dari energi fosil (minyak dan gas bumi) yang hingga saat ini menjadi pemain utama dari kebutuhan energi di dunia dan tidak terkecuali juga di Indonesia.



Seiring berjalannya waktu, permintaan akan energi terutama minyak solar atau diesel di Indonesia cenderung terus meningkat. Sehingga dengan meningkatnya kebutuhan ini mengakibatkan Indonesia masih harus impor minyak tersebut. Melihat ketergantungan yang sangat tinggi dari minyak impor ini, sudah saatnya Indonesia mengkaji pemanfaatan gas khususnya LNG (Liquefied Natural Gas) sebagai sumber energi yang lebih murah, aman dan ramah lingkungan untuk menggantikan bahan bakar minyak, solar atau diesel.

LNG sendiri memiliki karakter yang mendekati karakter solar. Penggunaan LNG sangat cocok diaplikasikan pada alat berat atau heavy duty truck dibanding Compressed Natural Gas (CNG) karena seperti yang kita ketahui alat berat dan heavy duty truck membutuhkan energi besar dalam pengoperasiannya. Namun LNG membutuhkan tangki penyimpanan besar dan berat, sehingga pada saat ini baru heavy duty truck yang dianggap cocok menggunakan LNG. Untuk diketahui lebih lanjut bahwa tangki LNG terbuat dari logam khusus yang dapat menahan tekanan tinggi, tekanan maksimum pada tangki LNG mencapai 20 MPa, alias sekitar 45x tekanan ban mobil pada umumnya.

Gambar: Negara-negara yang memiliki cadangan gas alam terbukti terbesar (BP Statistical Review)

“Indonesia kaya akan minyak dan gas”, mungkin itu sebuah kalimat yang sudah menjadi mindset banyak orang Indonesia saat ini. Padahal pada kenyataannya tidaklah demikian. Untuk cadangan gas alam sendiri, Indonesia menempati posisi ke-14 dalam hal cadangan gas alam terbukti atau proved natural gas reserves (Data dari BP Statistical Review). 

Dari fakta tersebut, mungkin kita berpikir bahwa Indonesia termasuk kaya akan gas. Namun, menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, menunjukkan bahwa terdapat defisit antar Supply  dan Demand gas alam di Indonesia, yang berarti Supply gas alam di Indonesia lebih kecil daripada kebutuhan di Indonesia akan gas alam itu sendiri (Kementerian ESDM, 2012). Sehingga kedepannya konsumsi gas alam di Indonesia akan semakin meningkat yang akan mengakibatkan demand gas alam semakin meningkat.


Bila kita bandingkan dengan negara Malaysia, produksi gas alamnya jauh melampaui konsumsi gas alamnya. Pada tahun 2012, Malaysia memproduksi sekitar 2,1 juta barrel per hari dan hanya mengkonsumsi sekitar 1,1 juta barrel per hari.

Dengan fakta yang telah dipaparkan di atas dan dengan menyadari bahwa gas alam merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui dan akan habis nantinya bila diproduksi secara terus menerus, maka perlu kita diskusikan ulang orientasi pemanfaatan gas alam ini.


Menurut data energi mix Indonesia sampai saat ini minyak dan gas bumi masih menjadi sumber energi utama dengan kontribusinya yang lebih dari 50% menjadi sumber pemenuh kebutuhan energi Indonesia. Konsumsi migas tersebut kian meningkat dari tahun ketahun khususnya minyak bumi, sedangkan produksinya terus mengalami penurunan (Decline rate).


Pemilihan LNG atau Gas Alam Cair ini sebagai alternatif sumber energi dikarenakan adanya cadangan gas bumi nasional sebesar 150,39 TSCF (Triliun Standar Cubic Feet) per 2010, terdiri dari 101,54 TSCF cadangan terbukti (proven) dan 48,85 TSCF cadangan potensial (potential) (Kementerian ESDM RI, 2013). Cadangan gas tersebut lebih besar dari cadangan minyak bumi yang ada di Indonesia sebanyak total 7.549,81 MMTSB (Million Metric Stock Tank Barrels).

Cadangan gas bumi dalam jumlah yang besar sering ditemukan dilokasi terpencil yang jauh dari lokasi konsumen, seperti yang terlihat pada gambar diatas bahwa sumber terbesar Gas Bumi Indonesia berada di wilayah Papua.  Apabila secara ekonomis layak dan memungkinkan, gas bumi sebenarnya dapat ditransportasikan melalui pipa. Tetapi apabila sumber gas bumi dan konsumen dipisahkan oleh laut dan kepulauan bahkan dipisahkan oleh benua atau dipisahkan dari jarak dan kondisi alam yang tidak memungkinkan ditransportasikan melalui pipa, maka alternatif yang mungkin secara teknis dan layak secara ekonomis adalah dengan mencairkan gas bumi tersebut.

Bila didinginkan sampai temperatur -162˚C pada tekanan 1 atm, gas alam menjadi cair dan volumenya akan berkurang sampai dengan 600 kalinya.  Dengan pengurangan volume yang sangat besar tersebut, gas alam cair (LNG) dapat ditransportasikan secara ekonomis dalam tanker yang terisolasi.


Seperti terlihat pada tabel diatas, LNG mempunyai komposisi 87% - 96% methane, 1,8-5,1% ethane, 0,1-5,1% propane dan senyawa-senyawa lain. Komposisi dari gas alam (pembentukan LNG) bervariasi tergantung dari sumber dan proses pembentukannya. Gas Methane pada LNG mempunyai sifat tidak berbau, tidak berwarna, non-corrosive dan non-toxic (Air Products, 1999). LNG pada dasarnya adalah metode alternatif untuk mengirim gas dari produsen ke konsumen.

LNG mempunyai volume yang jauh lebih kecil yaitu 1/600 kalinya dibanding volume gas alam pada keadaan standar. Compressed Natural Gas (CNG) disimpan pada tekanan sekitar 250 Bar, sehingga volume CNG menjadi 1/250 kali dari gas alam pada kondisi standar. Hal ini membuat biaya untuk mengangkut LNG lebih efisien dibandingkan dengan biaya angkut CNG. Selain itu LNG lebih aman dibandingkan CNG karena selama transportasi, LNG dalam Isotank disimpan pada tekanan yang jauh lebih rendah yaitu 6-10 bar, dibandingkan CNG yang mencapai 250 bar.

Sumber: Kementerian ESDM Republik Indonesia

Saat ini LNG yang diproduksi di Indonesia belum banyak bisa dinikmati oleh masyarakat dan Industri di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM Republik Indonesia bahwa sekitar hampir 3.000 MMSCF LNG yang diproduksi pada tahun 2013, hampir 1.000 MMSCF diantaranya diekspor keluar negeri.

Salah satu faktor penyebab utama Indonesia belum bisa memanfaatkan LNG sebagai bahan bakar disebabkan karena usaha dari Pemerintah untuk mengenalkan LNG sebagai salah satu sumber energi yang bersih dan emisi rendah kepada masyarakat masih kurang maksimal, dan juga disebabkan oleh tidak adanya fasilitas infrastruktur yang mendukung. Sebagai gambaran, saat ini fasilitas loading yang dimiliki oleh produsen LNG di Indonesia hanya untuk tanker bermuatan besar (lebih dari 100.000 m3). Sehingga belum dapat dilakukannya loading LNG untuk kapasitas tanker kecil. Sedangkan untuk distribusi LNG menuju Industri yang ada di Indonesia, umumnya kapasitasnya kecil sampai dengan menengah yaitu kisaran 3.600 - 15.000 m3.

Untuk bisa memanfaatkan LNG untuk pasar domestik, saya rasa perlu dibangun fasilitas loading atau unloading agar LNG dapat dikirim dengan menggunakan tanker atau barge agar dapat didistribusikan dan dikonsumsi oleh Industri-industri yang ada di Indonesia. Konsumen Industri perlu diperkenalkan juga dengan teknologi converter kit untuk dapat menggunakan LNG pada mesin diesel ataupun power plant yang beroperasi dengan bahan bakar solar atau disel saat ini.

Converter kit merupakan perangkat atau alat tambahan untuk mengkonversi sebagian besar penggunaan bahan bakar dari solar atau diesel menjadi gas sehingga menjadi mesin berbahan bakar ganda atau dual fuel.


Penggunaan LNG sebagai bahan bakar mesin pertambangan atau industri dan juga PLTD dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak. Tentunya hal tersebut dapat dilakukan bila ditunjang dengan tersedianya fasilitas yang baik untuk distribusi LNG dari unit kilang LNG yang ada di Indonesia maupun unit converter kit sebagai alat penting untuk konversi BBM menjadi gas (LNG) sebagai bahan bakar yang akan digunakan pada mesin-mesin kendaraan. 

Nilai saving cost berdasarkan fuel consumption yang cukup tinggi dari LNG akan sangat bermanfaat sebagai sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak khususnya solar.

Untuk mengetahui informasi dan data lengkap terkait Energi, kalian dapat baca informasinya di www.esdm.go.id

Jangan lupa like foto poster saya terkait 15 Hari Cerita Energi di Instagram saya (dicantumkan pada foto diatas). Semoga informasinya bermanfaat! monggo komentar di weblog ini jika ada yang punya masukan, saran dan kritik. 

Terimakasih atas supportnya sampai hari ke-13 ini ya guys!
Rakhmat's Home Enjoy!