:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Jumat, 20 November 2015



Ini merupakan pengalaman pertama saya mendengarkan dan mengikuti pengajian yang diberikan oleh Emha Ainun Najib atau kerap dipanggil sebagai “Cak Nun”. Saya yang merupakan bagian dari salah satu panitia event, awalnya agak sedikit heran kenapa kok rundown acara yang semestinya mulai pada Pkl. 20.30 WIB, namun kok pada Pkl. 19.00 WIB masih sedikit saja penonton yang menghadiri acara cak nun ini?
 
Setelah berjalannya waktu, pesona cak nun ternyata kelihatan juga. Tanpa para panitia harus gembor-gembor secara massive pun ternyata para murid, penikmat dan sejumlah elemen masyarakat bergerombolan datang di acara ini. Bahkan, saking padatnya banyak sekali para penonton yang harus berdiri dan berdesak-desakan di ujung-ujung area lapangan Desa Wisata Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Merapi. Mengingat bahwa medan yang harus dilalui oleh para penonton tidak begitu mudah dikarenakan jalan-jalan disana kondisinya sudah rusak. Namun, hal ini tidaklah menjadi masalah bagi mereka karena motivasi mereka mengikuti pengajian bersama Cak Nun itu sangat kuat.

Apalagi ketika Cak Nun baru saja sampai di tempat acara, saya ingat sekali saat itu sudah Pkl. 20.00 WIB. Memang betul sekali kata orang-orang, pesona seorang Cak Nun itu memang besar sekali. Padahal saya baru melihat sosoknya secara langsung sekali, tapi saya pikir Cak Nun ini belum mengisi materi saja kok magnetnya kuat sekali ya? Mungkin inilah alasan yang membuat saya betah selama berjam-jam mendengarkan dan mengkhayati pengajian yang disampaikan oleh Cak Nun saat itu.

Maka, sekarang mari baca penuturan saya tentang hal-hal yang menarik ketika mengikuti pengajian Cak Nun kemarin. Selamat membaca..

1. Jangan Sampai Salah Tafsir Arti Dari “Pengajian”, Pengajian Itu Bukan Hanya Membahas Shalat dan Fiqih Saja


Saat itu Cak Nun bertanya kepada seorang ibu, apakah kajian yang dilakukan olehnya saat itu merupakan pengajian? Sontak si Ibu bilang tidak, mungkin karena si Ibu melihat gaya Cak Nun yang berbeda sehingga membuatnya berpendapat itu bukanlah pengajian. Dengan secara jelas, Cak Nun menegaskan kembali mengenai sifat pengajian yang benar, yakni yang tidak terbatas kemungkinan pilihan temanya, karena agama sendiri adalah nilai untuk melihat, memahami, dan menyikapi aneka ragam hal, termasuk hal-hal yang ada diduniawi contohnya kopi, teknologi, hiburan, makanan, dsb. Jadi, jangan karena pengajiannya membahas hal-hal yang duniawi tersebut lalu kita merasa ini bukan pengajian. Selama kajiannya membahas tentang hubungan terhadap Allah SWT, maka itu bisa disebut juga sebagai pengajian loh ya.

2. Cak Nun Tidak Mengajak Kita Untuk Mengikutinya, Tapi Pelajari Dan Pahami Dahulu Materi Yang Disampaikanya Lalu Ikuti Ketika Itu Baik


Yang saya paling ingat adalah ketika Cak Nun dengan lugas mengatakan bahwa beliau kesini bukan untuk ceramah, tapi untuk merangsang cara berfikir kita. Jangan ditelan mentah-mentah setiap apa yang telah beliau sampaikan. Berfikirlah untuk menangkap setiap maksudnya dengan tepat. 

Analoginya seperti “sudah dikasih buah duren, untuk dapat menikmatinya, ya harus buka/belah sendiri buah duren itu, lalu menikmati buahnya sesuka hatimu”. 

Jadi, Cak Nun sudah sangat jelas menyatakan bahwa dia bukan tipikal ustad atau tokoh masyarakat yang harus diikuti apa-apa saja yang disampaikannya. Kalau ingin mencari role model, di dalam Islam sudah sangat jelas siapa yang harus kita jadikan panutan, yaitu Nabi besar kita Muhammad SAW. Karena kita tidak perlu mencari tahu alasan dan manfaat dari apa-apa saja yang dilakukannya, pastilah jika kita mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah SAW maka hal tersebut akan mendatangkan kebaikan untuk kita. Contohnya: Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk Minum sambal duduk. Tanpa kita harus repot-repot membuktikannya, ternyata minum sambil duduk itu baik dari segi kesehatan bukan?

3. Kita Sekarang Hidup Dijaman Animasi, Dimana Anak-Anak Muda Jaman Sekarang Lupa Akan Realita Kehidupan


Tidak heran Cak Nun berpendapat seperti ini, karena anak-anak jaman sekarang sudah pintar-pintar, cerdas dan pola pergaulannya berbeda. Tapi yang disayangkan adalah anak muda jaman sekarang yang pintar-pintar itu banyak mengeluhnya tanpa mencari solusi yang sebenarnya masih bisa dicari dan diusahakan.

Beliau juga berpendapat bahwa anak-anak jaman sekarang terlalu sering nonton kartun, film-film superhero, dan hiburan-hiburan lainnya lalu melupakan realita kehidupan. Contohnya: Mereka menonton seorang tokoh kartun “Tikus dan Kucing”, tokok ini didalam laya kaca sering berebutan makanan sampai dipukul-pukul pun tubuhnya bertransformasi menjadi macam-macam. Padahal, pesan tersiratnya adalah ketika kita melihat hal-hal yang tidak masuk akal, lalu kita mencontoh hal aneh tersebut maka janganlah kita tiru dan aplikasikan di kehidupan nyata. 

Ya mbook bodohnya jangan dipelihara. Sebaiknya kita perlu dan harus tau hal-hal yang berkaitan dengan khayalan ya gak perlu dicontoh. Karena hidup itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada rasa sakit, cacian, kegagalan dalam prosesnya agar mental kita menjadi kuat dan layak menjadi seorang yang sukses. Karena dengan kesulitan-kesulitan akan membuat orang menjadi dewasa.

4. Tidak Semua Polisi Itu Tidak Baik, Yang Baik Polisi Bawahan, Atasanya? Ya Mereka-Mereka Itu Kadang Yang Gak Baik Perilakunya


Di pengajian Cak Nun ketika itu, ada beberapa tokoh yang diundang untuk duduk disamping Cak Nun. Ada seorang polisi dan juga ada seorang tentara yang sama-sama tidak tinggi pangkatnya. Lantas, Cak Nun berkelakar, Iniloh Polisi yang baik itu, dia merakyat. Bagaimana tidak, pak polisinya bisa nyanyi campur sari dan bisa melucu layaknya seorang pelawak ketoprak humor. Para murid dan penonton Cak Nun saat itu sangat-sangat terhibur dibuatnya.

Cak Nun menjelaskan kepada kita bahwa sebenarnya kita jangan membenci polisi, sesungguhnya mereka itu pendapatannya tidak seberapa, mungkin kalo kita lagi apes di tengah jalan dan ditilang. Ya itu permainan oknum-oknum kecil saja. Coba kalian lihat oknum-oknum yang lebih besar jabatanya, wiih polisi yang berpangkat seperti itu sudah bisa beli macem-macem. Namun bawahanyalah yang menanggung resiko dari kerakusan komandan-komandanya itu. 

Padahal Polisi dan Tentara yang pangkatnya tidak tinggi sebenarnya hebat-hebat loh, mereka dengan minimnya fasilitas tapi masih bisa berprestasi di kancah internasional. Contohnya tentara kita yang memenangkan lomba menembak secara berturut-turut diluar negeri kemarin. Coba kalo fasilitasnya gak di korup sama atasannya, mungkin saja oknum-oknum kecil gak perlu lagi nyari target di jalan-jalan dan membuat repot masyarakat. Tapi yoo mbok kalo di jalan tertib lalu lintas, jangan jadikan hal ini sebagai alasan kita buat gak tertib lalu lintas ya. Karena itu penting.

5. Jangan Salahkan Orang Merokok, Sesungguhnya Rokok Itu Berkah


Gak heran kalo Cak Nun berpendapat seperti ini, karena memang Cak Nun adalah seorang perokok berat dan peminum kopi yang sangat aktif. Sampai-sampai disetiap pengajian Cak Nun para muridnya dan peserta pengajian ramai-ramai merokok bareng. Tapi sesungguhnya Cak Nun itu tidak pernah mengajak dan menganjurkan para murid dan peserta pengajian untuk merokok, kenapa? Karena ya kalo kita belum mengerti tentang rokok, ya jangan merokok. Kalau sudah mengerti, silakan saja merokok. Gak ada yang melarang.

Cak Nun dengan pendapatnya mengatakan bahwa Rokok itu ya dibuat oleh Allah SWT pasti ada alasanya. Memang kita siapa berani-beraninya melarang orang untuk merokok? Kalo kita berani melarang orang merokok, maka sama saja kita melarang Allah SWT membuat rokok? Kok sama Allah SWT berani-beraninya kita melarang-melarang?

Jika kalian tidak merokok, yaudah jangan merokok. Gak usah terlalu benci sama orang yang merokok. Pada hakekatnya seorang perokok juga harus bisa respect sama orang yang gak merokok, setidaknya jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain karena itu sama saja juga kita menyalahi aturan Allah SWT. Maka perokok dan para bukan perokok, sekarang akur-akur sajalah ya.. jangan saling menyalahkan dan cobalah untuk saling respect. Karena orang yang merokok itu tau alasanya mengapa merokok dan mereka juga tau cara menetralisir efek samping dari rokok itu sendiri.

-----

Cukup sekian pembahasan artikel saat ini. Dari penjelasan saya tadi sudah sangat jelas bahwa Cak Nun itu adalah seorang ulama atau kyai yang punya pemikiran-pemikiran nggak umum malah terdengar kontroversial dan dia itu merupakan tipikal yang berbeda dari para ustadz lainnya. Namun disamping itu pula sosok Cak Nun yang saya lihat, pemikirannya itu sangat masuk akal, otentik, brilian dan bisa dipertanggung jawabkan. Jadi, semoga tulisan saya kali ini memberikan pencerahan dan bermanfaat untuk kalian para pembaca ya!

Maka dari itu, silakan ditunggu artikel saya selanjutnya minggu depan ya. Stay tuned! :D

9 komentar:

  1. saya kurang setuju kenapa rokok berkah?
    esensinya sama, kenapa ganja dilarang walaupun hanya sebagai bumbu? padahal mereka gak merugikan orang lain, sedangkan rokok? yang pake atau engga tetep kena
    memang semua ciptaan Allah pasti ada manfaatnya, tapi yang jadi pertanyaan "sudah benarkah cara memanfaatkan tembakaunya?" kita bukan melarang Allah menciptakan tembakau tolong dipahami. setau saya tembakau bisa digunakan untuk pengusir nyamuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah pertanyaan bagus nih, bagaimana pendapatnya cak mat?

      Hapus
    2. Seperti yang Cak Nun jelaskan di point ke-2, menurutku Cak Nun ini tidak mengajak orang lain untuk mengikuti pola pikirnya, melainkan "Jangan ditelan mentah-mentah setiap apa yang telah beliau sampaikan. Berfikirlah untuk menangkap setiap maksudnya dengan tepat." Mungkin menurut yudo, rokok itu gak berkah adalah hal yang benar. tapi kalo ingin meluruskan, sebelum kita memiliki pendapat seperti itu, kita emang kudu tau dulu ilmunya. Mungkin Cak Nun bisa berpendapat bahwa Rokok itu Berkah ya karena dia seorang perokok dan dia mencari tahu keberkahan dari sebuah Rokok. Wallahualam. Kembali untuk paham point ke-2 lagi deh ya..

      Aku sendiri gak merokok dan karena aku gak suka rokok, ya aku gak merokok. :D

      Hapus
    3. Kalo Asa[ knalpot Mobil gmn?

      Hapus
  2. cak nun bkn ustat (yg seneng masuk tipi) krn orderan dr sang produserr.. :$

    BalasHapus
  3. Mantap Cak Nun.. Informasi dibalik Bentuk.

    BalasHapus
  4. Mantap Cak Nun.. Informasi dibalik Bentuk.

    BalasHapus

Rakhmat's Home Enjoy!