:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Rabu, 11 November 2015

Tepat dimana saya menulis artikel ini sebenarnya saya dan beberepa rekan panitia dari Marketing and Communication Universitas Islam Indonesia telah berkontribusi di event UII Integrated Career Days 2015 yang telah diselenggarakan pada tanggal 7-8 November 2015 yang lalu. Alhamdulillah event yang diselenggarakan dalam beberapa bentuk kegiatan yang terdiri dari Job Fair, On Campus Recruitment dan Corporate Gathering & Survei Kepuasan Pengguna Lulusan tersebut sukses dan hasilnya ternyata diluar dugaan. Bagaimana tidak, yang tadinya kami memperkirakan hanya 2000 peserta saja yang akan mengikuti rangkaian acara #UIIICD2015, namun pada kenyataanya ada hampir 4000 peserta yang datang meramaikan acara ini. 

Photo credit: Yusuf Anasta A
Padahal #UIIICD2015 baru diselenggarakan untuk pertama kalinya dan direncanakan kedepannya akan diselenggarakan 2 kali dalam setahun. Aamiin! Semoga saja acara kedepanya jauh lebih sukses dengan menghadirkan banyak perusahaan-perusahaan multinasional deh ya.
Okay, saya cukupkan sudah informasi mengenai #ICDUII2015. Sekarang bacalah pemaparan saya mengenai pengalaman-pengalaman menarik yang saya dapatkan dari Event yang ciamik ini. Tentunya pengalaman ini saya rangkum dengan mengambil hikmah dari pengalaman saya dulu ketika bekerja dan merupakan hasil dari analisa saya terhadap karakteristik para Jobseeker yang meramaikan acara #UIIICD2015 kemarin. Apa aja sih?
1. Jobseeker Masih Tergesah-Gesah Dan Ingin Mendapatkan Hasil Yang Instan

Photo credit: www.koran-sindo.com

Setiap Jobseeker terlalu terburu-buru dalam menentukan kariernya dimasa depan. Memang betul dengan adanya Job Fair mereka dihadapkan dengan berbagai macam pilihan peluang karier. Mulai dari peluang karier yang selaras dengan disiplin ilmunya sampai ke peluang karier yang sama sekali jauh dari ilmu-ilmu yang mereka pelajari dibangku kuliah sebelumnya. Selama posisi pekerjaan yang mereka lamar sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing, menurut saya itu tidaklah menjadi masalah. Tetapi, jika posisi yang mereka lamar sudah jauh bahkan tidak sesuai dengan background study mereka… What is the point of being college student?
We can be anything as long as we can optimize the knowledge that we gained by applying it in life

Gelarnya sudah jelas yaitu MAHAsiswa, kita berbeda dengan siswa yang sewaktu-waktu masih harus dicekoki oleh guru untuk menemukan jati dirinya. Tidak perlu saya perjelas secara panjang lebar, MAHAsiswa seharusnya BERDIKARI "INDEPENDENT". Mengerti apa-apa saja yang boleh dan tidak untuk dirinya, termasuk dalam menentukan kariernya dimasa depan. Tapi kenapa masih saja ada orang yang katanya seorang MAHAsiswa tapi masih asal-asalan memilih peluang kariernya dimasa depan? Kok bisa-bisanya sih memilih jenis pekerjaan yang sama sekali bukan bidangnya dan kemudian masih terlihat bingung dalam menentukan posisi pekerjaan yang ingin dilamar? Gak perlu menyalahkan siapa-siapa, cukup intropeksi pada diri sendiri saja yuk.
Memang betul jika pengaruh akademis disaat bangku kuliah itu sangat kecil ketika memasuki dunia Pekerjaan nanti. Paling ilmu yang bisa kita terapkan persentasenya sekitar 15-30% saja.

Tetapi setidaknya kita tahu bahwa MAHAsiswa jurusan BIOLOGI tidak semestinya melamar di posisi MARKETING atau MAHAsiswa dari jurusan TEKNOLOGI PERTANIAN sebaiknya tidak menjalani kariernya didunia PERBANKAN bukan?

Jika MAHAsiswa menjalani kariernya sesuai dengan bidangnya masing-masing saya rasa Indonesia akan menjadi negara yang kuat dikarenakan semua bidang pekerjaan diisi oleh orang yang tepat dan diposisi yang tepat pula. Sehingga Agent of Change yang sering dikoar-koarkan oleh MAHAsiswa itu sendiri akan menjadi hal yang nyata, bukan sekedar menjadi generasi wacana. (read: generasi wacana)

2. Peristiwa Job Hopping “Kutu Loncat”, Banyak Dampak Negatifnya Ketimbang Positifnya 

Selain diramaikan oleh para fresh graduated, Job Fair juga seringkali diramaikan oleh para "Kutu Loncat" atau dalam Bahasa kerennya adalah Job Hopping. Dampak positifnya adalah perusahaan-perusahaan dapat merekrut jobseeker yang memiliki variasi “segudang” pengalaman pekerjaan. Namun sayangnya hal ini akan menjadi kerugian bagi perusahaan tersebut karena dalam jangka panjang calon karyawan ini diprediksi tidak akan loyal sehingga perusahaan itu pun akan sering fokus pada proses recruitment. Padahal, dengan sering dilakukannya proses recruitment maka perusahaan tersebut masuk dalam tataran yang kurang baik.
Itu kalau kita berbicara dalam sudut pandang perusahaan loh ya, mari sekarang kita lihat dari sudut pandang seorang jobseeker yang sering melakukan Job Hopping. Pastinya, jobseeker jenis ini akan memulai kariernya dari Nol kembali. Paling tidak hanya ada sedikit saja perbedaan pada salary yang ia terima. Selain itu juga pada dasarnya jobseeker jenis ini akan kehilangan banyak waktu yang sebenarnya waktu tersebut bisa digunakan untuk membangun karier. Okelah kalau misalnya dia mendapatkan tawaran pekerjaan dengan jabatan yang lebih tinggi. Ini akan menjadi hal yang berbeda dan seharusnya para jobseeker harus condong ke arah yang seperti ini jika ingin menjadi seorang Job Hopping yang benar agar kariernya bisa naik dengan pesat kedepannya.

3. Klasifikasi Jobseeker Grade A, Grade B dan Grade C
Photo credit: www.dreamstime.com


Salah seorang dosen saya pernah bercerita bahwa Mahasiswa yang mengoleksi banyak Grade A sewajarnya akan menjadi dosen atau guru yang kelak akan mengabdikan dirinya didunia pendidikan. Lalu, Mahasiswa yang mengoleksi banyak Grade B akan sewajarnya menjadi “Salary Man” atau pekerja yang loyal di perusahaan swasta bahkan pergi ke zona nyaman untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Namun, Mahasiswa yang banyak mengoleksi Grade C kebanyakan dari mereka akan menjadi “Pengusaha” atau menjadi “Politikus”. Mau jadi apa dan jalan hidup seperti apa yang akan kita jalani, memang itu adalah urusan kita masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengenali dan memahami setiap potensi yang ada pada diri kita bukan?
Balik lagi ke klasifikasi, seringkali saya merasa heran kenapa banyak sekali orang-orang yang kemampuan akademisnya tinggi “Grade A” ditolak oleh berbagai perusahaan. Apakah dia terlalu EXCELLENT? Atau apakah dia terlalu membahayakan posisi orang-orang yang sudah memiliki jabatan tinggi diperusahaan tersebut kedepannya? Entahlah, fenomena ini tidak bisa diterka-terka dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. 


Orang-orang yang kemampuan akademisnya tinggi sebaiknya mengenali dan memahami potensinya. Akan menjadi sangat mulia pekerjaan si Grade A ini apabila mereka mau mengabdikan dirinya didunia pendidikan dan mengajari generasi-generasi penerus bangsa lalu mewariskan kompetensi yang dimilikinya untuk khalayak ramai. Begitu juga dengan para Mahasiswa yang ada di Grade B dan C, sebaiknya mereka juga mengenali potensi yang ada pada diri mereka. 

Pemikiran ini dilandaskan oleh rasa peduli saya terhadap orang-orang yang memiliki tujuan yang jelas tetapi kesempatan mereka terbuang percuma karena terkadang ada saja orang-orang dari kalangan Grade A mengambil kesempatan kariernya si Grade B. Kemudian dengan seenaknya setelah itu si Grade A malah menyia-nyiakan kesempatan yang mereka terima dengan menjadi Job Hopping. Lalu apa yang terjadi dengan si Grade B? Muter sana sini mencari pekerjaan dan akhirnya putus asa. 
Lalu bagaimana nasibnya si Grade C? Mereka sih pastinya akan mencari karier yang memiliki resiko tinggi. Mereka akan dihadapkan oleh kesulitan-kesulitan dalam mencoba berbagai bisnis dengan menjadi wirausaha. Mereka akan dicaci-maki dalam kariernya menjadi politikus sampai akhirnya dari kesulitan, kegagalan dan caci makian tersebut akan memperkuat mental mereka. Dengan mental yang kuat tersebut jati diri si Grade C ini terbentuk. 
Apabila kita berani mengambil resiko yang begitu besar maka hasil yang besar juga yang akan mendatangi kita. Namun, ketika hasilnya tidak baik yaa pastinya kita harus bisa move on dong ya.. toh Allah SWT tidak akan menciptakan cobaan diluar kemampuan setiap hambaNya bukan?

Pendapat saya ini tidak sepenuhnya benar, karena..

Jika si Grade C malas-malasan, bagaimana dia bisa menjadi pengusaha sukses atau politikus handal?
Jika si Grade B sering mengeluh, bagaimana dia bisa membangun kariernya di perusahaan swasta atau mendapatkan posisi yang hebat dengan menjadi PNS?

Jika si Grade A tidak percaya diri, bagaimana dia bisa mendidik dan membangun mental generasi-generasi penerus bangsa?

Think about it further, buddies!   

4. Jobseeker Harus Percaya Diri, Tetapi Terlalu Percaya Diri Juga Gak Baik

Photo credit: bigthink.com


Memiliki kepercayaan diri yang tinggi itu sejatinya memang baik, apalagi jika kita percaya diri yang ditunjang dengan kelebihan kemampuan yang kita miliki. Pastinya perusahaan mana sih yang tidak mau merekrut jobseeker jenis ini?
Namun para Jobseeker juga harus berhati-hati, jangan sampai terlalu membesar-besarkan kemampuanya dan menganggap bahwa dia bisa melakukan apa saja.

Meningkatkan citra diri dan melebih-lebihkan kemampuannya dalam mengatasi hal-hal baru sejatinya akan menjadi hal yang konyol ketika si Jobseeker ini dihadapkan pada permasalahan yang sesungguhnya. Kalian tidak ingin terlihat konyol bukan? 

Ya rendah hatilah dan beranilah dalam mengatakan BELUM BISA apabila kalian tidak memiliki kompetensi pada suatu bidang yang ditawarkan oleh orang lain. Tapi jika kalian ditawari suatu project dan kalian merasa memiliki komepetensi yang mumpuni untuk menyelesaikan project tersebut, ya SIKAT AJA! Justru dari tawaran ini kita akan mendapatkan seabrek pengalaman yang akhirnya membentuk jati diri kita sebagai “Manusia” yang se-UTUHNYA.

5. Hilangkan Stereotype Mencari Pekerjaan Untuk Mendapatkan Uang, Carilah Pekerjaan Untuk Memenuhi Fungsi Kita Sebagai Wakil Allah di Muka Bumi Ini
Photo credit: daftarhtkaskus.blogspot.com
Banyak orang yang mengira bahwa Tujuan bekerja adalah untuk mencari uang, lalu uang tersebut digunakan untuk keperluan pribadi atau bahkan untuk menafkahi keluarganya. 

Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, siapa sih yang mau bekerja tapi gak dibayar? 

Tapi, jika orientasi kita bekerja untuk menjadi sosok yang berguna bagi semua umat. Kita bekerja untuk mendapatkan Ridho dari Allah SWT dan kita bekerja dengan sepenuh hati. Niscaya, kita akan merasakan betapa hidup ini lebih berharga daripada money-oriented. 

Ketika saya bekerja dulu, saya memiliki seorang rekan kerja yang mendapatkan gaji yang jumlahnya 3 kali lipat dari gaji yang saya dapatkan. Ya gimana gak lebih besar gajinya. Rekan kerja saya ini berangkat kerjanya tiap subuh lalu pulangnya larut malam dari hari senin sampai sabtu. Begitulah siklus hidupnya sampai seterusnya. Malah di Hari Minggu dia mengambil jatah lembur untuk mendapatkan perkalian gaji yang lebih besar. 

Namun, karena dia tipikal pekerja yang money-oriented, dia banyak mengorbankan waktunya untuk berkumpul dengan keluarga, bermain dengan anaknya sampai dia harus ngutang sana-sini dikarenakan terlena dengan gaji besar tetapi dia tidak bisa mengaturnya dengan baik.  

Saya juga heran, kenapa dengan gajinya yang besar tersebut dia tidak bisa investasi lebih? kenapa harus ngutang sana-sini, gali lobang tutup lobang? Entahlah, saya pikir karena rekan kerja saya ini salah pergaulan "Main Sesuatu" maka ya uangnya yang banyak itu, habis dalam sekejap mata.
Jadi pada dasarnya semua ini terjadi dikarenakan tujuannya bekerja adalah untuk mencari uang, jika uangnya habis ya cari lagi.. tapi apa yang dikorbankan? Ya seperti yang saya jelaskan tadi. Dia gak ada waktu untuk mendidik anak-anaknya agar memiliki mental yang kuat dan memiliki pengaruh positif. Dia gak ada banyak waktu untuk berbahagia menikmati hidup bersama keluarganya.
Sangat disayangkan memang.. Tapi yasudahlah.. toh itu merupakan pilihan hidupnya. Siapa juga yang mau melarang? 

You deserve to make your own path in life, but you should be brave to take the risk and the consequence.

Lalu bagaimana dengan saya yang gajinya hanya sepertiga dari gaji rekan saya itu? Alhamdulillah saya dapat pergunakan gaji saya itu untuk membiayai kuliah saya yang cukup mahal. Hehehe...

Toh pada dasarnya tujuan saya bekerja bukan semata-mata untuk mencari uang bukan? Dulu saya bekerja karena saya pikir inilah jalan yang bisa saya tempuh untuk meningkatkan taraf hidup saya kedepannya dengan melanjutkan study dijenjang yang lebih tinggi. Tujuan saya jelas bahwa Islam sebagai agama yang Rahmatan lil ‘alamin bisa tercermin didalam pribadi saya.

Ini ada tulisan yang menarik yang saya kutip dari Jangan Bekerja Untuk Mencari Uang.
 
Isinya mengajak kita untuk berkaca dari surat ke-57 (Al Hadid) ayat ke-20 didalam Al Qur’an ini: 

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Ternyata hidup ini bukan semata-mata bagaimana untuk memperoleh kebahagiaan di dunia tapi juga di akhirat. Rahasia untuk mendapatkan keduanya adalah berawal dari niat dan tujuan kita sendiri, diantaranya yaitu:
  1. Tujuan manusia diciptakan Allah adalah sebagai khalifah (wali Allah) di bumi (Al Baqarah 2:30). Manusia adalah pemelihara bumi, bukan yang membuat kerusakan. 
  2. Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat pada lingkungannya. Jangan pernah bekerja untuk mendapatkan uang, tapi bekerja-lah untuk memberikan manfaat kepada lingkungan anda. 
  3. Ketekunan akan mendatangkan hasil. Segala hal yang anda tekuni akan menjadikan anda ahli di bidang tersebut. Fokuslah dengan kualitas hasil kerja anda. Biarkan uang akan mengikuti anda, jangan anda yang mengikuti uang. 
  4. Ukuran kebahagian bukanlah uang, tetapi bagaimana semua rizki yang diberikan kepada kita dapat menjadikan kita selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya. 
  5. Apabila kita memiliki ketakutan akan kehilangan atau tidak punya uang, segera istighfar dan ingat bahwa uang bukanlah segalanya. Yakinlah bahwa Allah yang maha mengatur rizki. 
  6. Saat kita memiliki uang yang berlimpah, ingatlah bahwa itu hanyalah titipan, berbagilah kepada yang membutuhkan. Ganjaran pahala jauh lebih besar daripada bunga bank. Jadikanlah uang sarana mencapai kebahagiaan di akhirat.
  7. Jadikan Al Quran sebagai pedoman hidup anda, niscaya tidak ada masalah di kehidupan ini yang bisa menjerumuskan anda.
Tulisanya sangat menarik sekali bukan?
Cukup sekian dulu tulisan saya kali ini, InsyaAllah rencananya saya akan mengupdate weblog saya ini seminggu sekali yang berisi pemikiran saya tentang cerita-cerita kehidupan yang saya jalani. Semoga bisa menginspirasi kawan-kawan semua ya. Jika ada tulisan saya yang menyinggung perasaan kawan-kawan, tolong dimaafin. Silakan ambil hal-hal yang positifnya, hiraukan yang negatif. Ocree?

So, STAY TUNED!

1 komentar:

  1. Alhamdulillah.. The best person among you all is person who give useful to the others.

    BalasHapus

Rakhmat's Home Enjoy!