:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Sabtu, 28 Mei 2016

Saat ini pendidikan tampaknya menjadi sebuah kebutuhan penting bagi seseorang dalam mempersiapkan masa depan mereka. Sayangnya biaya pendidikan yang tinggi masih sering menjadi kendala bagi seseorang untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Benar saja, pendidikan adalah sebuah investasi jangka panjang yang akan dirasakan oleh seseorang nantinya. Jadi tidak perlu heran jika saat ini perguruan tinggi menaikkan tuition fee-nya berdasarkan dari “Permintaan” untuk melanjutkan kuliah yang begitu besar.

Foto ini dikutip dari: http://royalpurplenews.com

#Lalu faktor apa saja yang membuat biaya kuliah ini secara signifikan meningkat?

1. High Demand, Low Supply, ya biaya kuliah naik.

Ini diakibatkan dari dasar Hukum Ekonomi yaitu “Supply and Demand”. Jika permintaan “Demand” untuk melanjutkan kuliah itu NAIK, maka ada 2 keputusan yang bisa diambil oleh pihak perguruan tinggi.

  • Meningkatkan “Supply” dengan cara menerima mahasiswa/i sebanyak-banyaknya, atau

  • Meningkatkan biaya kuliah.

Ketika sebagian besar universitas tidak bisa meningkatkan minat para siswa-siswi SMA untuk lanjut kuliah, maka otomatis perguruan tinggi akan memilih untuk meningkatkan biaya kuliah.

Untuk dapat mengerti lebih lanjut tentang fenomena ini, maka kita harus menyelidiki apa sih sebenarnya yang mempengaruhi permintaan “Demand” ini?

Ternyata ada 2 faktor lagi:

1. Perguruan tinggi menjanjikan prospek kerja yang baik dibanding lulusan SMA.

Saat ini para sarjana jelas lebih memiliki prospek kerja yang lebih baik ketimbang para lulusan SMA. Kepala BPS Suryamin menjelaskan, lulusan universitas yang menganggur mencapai 5,65% pada kuartal III/2014 dari sebelumnya 5,39% pada kuartal yang sama 2013. Sementara, lulusan SMA juga meningkat menjadi 11,24% dari sebelumnya 11,21%. Lulusan SMA juga menjadi penyumbang tingkat pengangguran terbuka terbanyak. Sehingga, generasi muda saat ini lebih tertarik untuk mengasah skill nya ke jenjang yang lebih tinggi dan kemudian mempengaruhi “Demand” yang menjadi semakin meningkat

Sudah menjadi impian banyak anak-anak SMA saat ini untuk bisa melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi. Banyak sekali alasanya mulai dari ingin meningkatkan softskills, communication skills, hardskill (tergantung dari disiplin ilmunya), networking sampai hanya untuk gengsi-gengsian yang gak jelas. Yang penting kuliah. Ingat hukum ekonomi tadi, semakin tinggi Demand maka perguruan tinggi harus mengambil keputusan entah itu menambah kuota mahasiswa dan lupa dengan kualitas pelayanan pendidikanya, atau meningkatkan biaya kuliah.

2. Pemberian subsidi oleh pemerintah

Untuk membuat biaya kuliah di universitas lebih terjangkau, pemerintah saat ini gencar memberikan subsidi berupa Beasiswa, UKT, dsb. Tapi masalahnya adalah jika pemerintah memberikan subsidi maka tingkat konsumsi masyarakat juga akan meningkat, karena murah sehingga meningkatkan permintaan “Demand” pada jasa atau produk tertentu.

Apabila mahasiswa/i di subsidi kuliahnya agar biaya kuliah terjangkau, tapi ironisnya biaya kuliah menjadi tidak terjangkau kedepannya karena subsidi ini sifatnya hanya sementara dan sewaktu-waktu bisa dikurangi atau bahkan ditarik. Akibat dari subsidi ini adalah meningkatnya permintaan “Demand” untuk melanjutkan kuliah, ketika subsidi sudah tidak diterapkan lagi maka mau tidak mau perguruan tinggi harus meningkatkan biaya kuliah. 

Peningkatan biaya kuliah ini dilakukan karena universitas harus mengeluarkan/membayar banyak biaya seperti renovasi gedung, pemeliharaan gedung, perpustakaan, gedung olahraga dan pembiayaan infrastruktur lainnya. Sampai pihak perguruan tinggi juga harus membiayai staff administrasi yang baru direkrut untuk menanggapi pelayanan perguruan tinggi atas peningkatan jumlah mahasiswa-mahasiswi setiap tahunnya.

Jadi sekarang kita tahu bahwa ada 2 alasan utama kenapa biaya kuliah itu mahal. Sejujurnya penulis juga dilema dalam situasi seperti ini. Karena penulis sendiri harus membiayai kuliah sendiri, sedangkan tabungan yang penulis miliki saat ini sudah tidak cukup untuk membiayai kuliah penulis sepenuhnya.

Tapi, penulis tetap optimis. Segala upaya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti Allah SWT berikan hasil yang maksimal pula. Jadi tidak akan mengeluh, dan bagi kalian yang merasa kesusahan dalam segala situasi. Ingatlah.. segala masalah pasti ada solusinya, itu tergantung apakah kalian menyadari solusi tersebut ada di sekitar kalian atau tidak. 

Dan bagi kalian yang masih bisa dibiayai kuliah oleh orang-tua kalian, maka janganlah disia-siakan ya. Kuliah lah dengan penuh integritas dan dedikasi. 

Foto ini dikutip dari: http://geniusquotes.org/

Keep fighting on your dream!

 


Sabtu, 21 Mei 2016

Apabila kalian seorang MAHAsiswa, dan kalian ingin menjadi seorang pemimpin. Maka kuliah-pulang-kuliah-pulang (kupu2) bukanlah pilihan yang tepat untuk menjadi seorang pemimpin hebat dimasa depan. Karena untuk menjadi pemimpin sejati setidaknya kalian harus memiliki beberapa kemampuan dasar dalam leadership seperti yang akan saya share dibawah ini:

1. Time management skills


Kunci dalam Time Management Skills adalah mengerti perbedaan antara ‘Important’ dan ‘Urgent’. ‘Urgent’ adalah suatu kegiatan yang membutuhkan respon yang cepat, tapi jika kita merespon ataupun tidak maka hal tersebut tidak akan menjadi masalah yang besar. Contohnya: Jika ada panggilan telepon, apabila kita tidak mengangkatnya maka tidaklah menjadi masalah besar.

‘Important’ adalah suatu aktivitas dimana apabila kita melakukan atau tidak melakukan aktivitas tersebut maka tetap akan memiliki dampak yang besar untuk dirimu atau orang lain. Contohnya: pergi ke dokter gigi adalah ‘Important’ karena jika tidak pergi maka kita akan terkena penyakit pada gusi atau gigi.

#Memprioritaskan Waktu

Setelah kita mengerti tentang hal-hal yang berkaitan dengan ‘Important’ dan ‘Urgent’, maka kita juga perlu memberi prioritas pada waktu yang kita miliki. Caranya adalah dengan membuat semacam daftar dari tugas-tugas yang sekiranya membutuhkan perhatian penuh atau tidak. Beberapa tugas mungkin harus diselesaikan dalam waktu yang singkat, tapi juga ada tugas yang bisa diselesaikan kemudian hari. Intinya adalah kalian harus menyelesaikan tugas-tugas yang deadlinenya singkat dalam hal ini tugas-tugas ‘Important’, baru kemudian menyelesaikan tugas lainnya.

#Hilangkan Sifat Menunda Pekerjaan

Sifat Menunda adalah salah satu sifat yang sangat mengurangi produktivitas. Sifat ini dapat membuat kita membuat banyak waktu penitng dan energi. Sifat Menunda ini harus dihindari bagaimanapun caranya. Ingat, sekali kamu menunda pekerjaan.. rasanya kamu akan menunda pekerjaan-pekerjaan lainnya. Iya, menunda adalah salah racun yang perlu kita buang dari sifat kita.

#Hindari Multitasking

Sebenarnya menjadi seorang yang Multitasking tidaklah salah, jika kamu memang seorang yang disiplin. Tapi bagi kalian yang masih belajar menjadi disiplin, disarankan untuk tetap fokus saja dengan pada satu tugas. Karena Multitasking bukannya akan memberi efisiensi waktumu, tapi malah akan membuat kamu stress dan kehilangan kualitas dari apa yang kamu kerjakan.

#Rehat Dan Nikmati Hidupmu

Jika kamu memiliki jadwal yang padat, maka cobalah untuk istirahat selama 10-15 menit. Terlalu banyak pikiran akan membuatmu kekurangan produktivitas. Olahraga, Hangout, Mendengarkan Musik, Mengaji, Stretching merupakan hal yang tepat dilakukan jika kamu sudah lelah dari segala aktivitasmu. Jangan lupa untuk meluangkan waktumu juga untuk bersama teman-teman dan keluargamu. Jika dirasa kamu sudah fit kembali, maka kamu akan memiliki energi lebih untuk mengerjakan tugas-tugasmu.

2. Conceptual skills

Untuk bisa memiliki ‘Conceptual Skills’ seorang MAHAsiswa harus dapat menjelaskan ide-ide kreatifnya dan mengaitkan idenya tersebut dengan ide-ide kreatif lainnya. Memang, untuk memiliki kemampuan ini kita harus menjadi ‘Pintar’. Namun, MAHAsiswa yang ‘Kurang Pintar’ pun bisa memiliki kemampuan ini dengan cara memahami teman-temannya secara efektif. Maksudnya dia memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan suatu organisasi ataupun kepanitiaan yang diikuti secara keseluruhan dan akhirnya dapat mengembangkan ide-ide untuk memajukan organisasinya tersebut yang didapatkan dari hasil ‘brainstorming’ setiap element organisasi. 

Maka untuk dapat memiliki kemampuan ini seorang MAHAsiswa haruslah ‘Open Mind’ dan terbuka dengan siapapun. Karena dengan memahami lingkungan sekitarnya, orang yang memiliki kemampuan ini dapat mengerti bahwa dengan adanya perbedaan ide kita dapat memiliki hubungan yang komplementer yaitu hubungan yang saling melengkapi dan mengisi satu dengan yang lainnya.

3. Technical skills

MAHAsiswa yang ingin memiliki kemampuan ini harus mengerti segala proses fisik suatu aktivitas secara nyata. Contohnya jika MAHAsiswa terlibat didalam suatu kepanitiaan dan kemudian masuk kedalam divisi ‘Perlengkapan’ maka MAHAsiswa ini harus mengerti bagaimana caranya mengimplementasikan penataan panggung, mengatur kinerja vendor, memastikan kondisi soundsystem dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan setting perlengkapan. 

Kemudian untuk melatih kemampuan ‘Technical Skills’ seorang MAHAsiswa haruslah sering-sering terjun ke lapangan dalam setiap aktivitas tanpa hanya mengandalkan konsep saja. Seorang MAHAsiswa harus mengerti keadaan lapangan secara nyata dan kemudian dapat melakukan perbaikan yang diperlukan. Sehingga ‘Technical Skills’ yang dimilikinya ini dapat dia terapkan di dunia kerja kedepannya dan membantunya untuk melejit menjadi seorang pemimpin yang mumpuni dan dikagumi karyawan lainnya didalam perusahaannya.

4. Human Relation Skills

Bisa disebut juga sebagai ‘interpersonal skills’, adalah kemampuan seorang pemimpin yang dapat beriteraksi dengan baik ke setiap orang. Pada dasarnya, tidak ada satupun karyawan yang enjoy dan betah bekerja bersama dengan sosok pemimpin yang kejam dan tidak memberikan toleransi dalam pekerjaan. Maka sosok pemimpin yang tidak memiliki ‘interpersonal skills’ yang baik dapat mengurangi baik itu moral dan produktivitas pada setiap karyawanya. Sebaliknya, sosok pemimpin yang memiliki ‘interpersonal skills’ yang baik  maka dia dapat menularkan positive attitudes dan keinginan yang kuat untuk meningkatkan produktivitas baik dirinya dan juga untuk karyawanya. Dalam lingkungan bisnis, sangat penting sekali untuk bekerja secara efektif dengan rekan kerja kita, bawahan maupun dengan bos kita karena dengan adanya kemampuan komunikasi yang efektif dan kolaborasi yang baik dapat memberi dampak meningkatnya produktivitas. Maka seorang MAHAsiswa perlu juga mengasah kemampuan ini dengan cara menjaga hubungan baik dengan setiap elemen di kampus. 

Bisa saja menjaga hubungan yang baik dengan para dosen, cleaning service dan semua warga kampus. Jika memnag pada kenyataanya si MAHAsiswa ini dihadapi dengan konflik, maka dia harus tahu caranya ‘conflict management’ yaitu bisa dengan cara Musyawarah mufakat, memberikan ide win-win solution dan tentunya tidak berat sebelah dalam problem solving. Insya Allah dengan dilatihnya kemampuan ‘interpersonal skills’ ini akan membuat kita dapat menjalani dengan enjoy hidup yang terasa sulit.

5. Decision Making Skills

Nah ini adalah kemampuan dasar terakhir yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Memang tidak mudah untuk memiliki kemampuan ini, karena perlu latihan ‘Trial’ dan ‘Error’ dalam setiap pengambilan keputusan. Tapi seorang MAHAsiswa setidaknya mengerti dahulu konsep ‘Decision Making Skills’ dan tidak asal-asalan mengambil keputusan. Intinya adalah dalam ‘Decision Making Skills’ kita akan menyelesaikan masalah dengan melakukan seleksi dari salah satu tindakan atau lebih dari berbagai macam alternatif yang ada. Hampir disetiap ‘Decision Making’ mengakibatkan adanya konflik dan ketidakpuasan pada seseorang. 

Hal yang tersulit adalah menentukan pilihan yang memiliki banyak hasil positif ketimbang kerugiannya. Maka, seorang MAHAsiswa perlu tahu kemampuan ini dan ketika kelak telah mengambil keputusan setidaknya dia bersedia menerima konsekuensi yang ada. Ini merupakan satu-satunya cara agar MAHAsiswa dapat mengontrol waktu, kesuksesan dan kehidupannya sepenuhnya. Jika MAHAsiswa ingin melatih ‘Decision Making Skills’ inilah tips yang dapat kalian lakukan:
  1. Mengindentifikasi tujuan dari keputusanmu. Apa sih masalah yang harus kalian selesaikan? Kenapa masalah itu perlu di selesaikan?
  2. Mencari informasi. Faktor-faktor apa saja yang terlibat dalam suatu masalah?
  3. Mengidentifikasi prinsip-prinsip untuk menilai suatu alternatif. Apa standar penilaian kriteria yang sebaiknya ada pada suatu solusi?
  4. Brainstorm dan membuat daftar pilihan yang berbeda-beda. Menghasilkan ide-ide untuk setiap kemungkinan solusi yang tersedia.
  5. Mengevaluasi setiap pilihan dalam hal konsekuensinya. Gunakanlah standar penilaian kriteria untuk menentukan alternatif baik itu menghasilkan kontra maupun pro.
  6. Tentukan alternatif terbaik. Ini akan menjadi langkah mudah ketika kamu sudah menyelesaikan step-step sebelumnya.
  7. Ambil keputusan dan jadikan kepetusan tersebut menjadi sebuah action. Ubahlah keputusanmu menjadi specific plan dari setiap action steps. Lalu laksanakan perencanaanmu.
  8. Mengevaluasi hasil dari keputusan dan tindakan dari langkah-langkah yang kamu lakukan. Apa pelajaran yang bisa diambil? Ini merupakan langkah yang penting untuk pengembangan yang lebih jauh lagi dari ‘Decision Making Skills’.
Maka dalam kehidupan sehari-hari kita pernah dituntut untuk melakukan keputusan secara cepat ‘fast decision’, dengan tidak adanya waktu yang cukup untuk melakukan step-step yang saya share diatas. Maka dalam kondisi seperti ini langkah yang peling efektif dilakukan oleh kita adalah dengan terus fokus pada tujuanmu dan kemudian biarkan intuisimu yang mengantarkanmu pada pilihan yang tepat. 

Seperti yang saya bilang sebelumnya, dalam “Decision Making Skills’ seorang MAHAsiswa perlu melakukan ‘Trial’ dan ‘Error’ sampai dia memiliki intuisi yang kuat dalam merespon ‘fast decision making’. Sehingga dengan melatih semua kemampuan dasar yang saya sebutkan diatas. Seorang MAHAsiswa akan menjadi pemimpin yang tangguh, kuat, konsisten dan berpengaruh kedepannya.

Apakah kamu sudah memiliki kemampuan-kemampuan dasar yang sudah saya sebutkan diatas? 

Atau masih nyaman dengan kuliah-pulang-kuliah-pulang? 

It’s your own choice!

You must be willing to take the consequences.

Sabtu, 14 Mei 2016

Hello guys!
Setelah beberapa bulan ini vakum nulis-nulis, akhirnya CAKMAT sekarang bisa kembali ke dunia kepenulisan. Bukan karena malas atau gak ada ide, tapi karena seabreknya tugas-tugas kampus dan kegiatan kemahasiswaan yg CAKMAT harus ikuti belakangan ini. Well, InsyaAllah cakmat bakal posting artikel-artikel baru setiap sabtu sore. Jadi apa tema kita minggu ini?? 

Tentang sampah plastik..

Apa kalian tahu bahwa Indonesia masuk dalam peringkat kedua di dunia sebagai penghasil sampah plastik ke Laut setelah Negara Tiongkok?

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai persoalan sampah sudah meresahkan. Hal tersebut berkaitan dengan data dari KLHK yang menyebutkan bahwa plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektar kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Jika data tersebut hanya diambil dari 100 toko anggota dari APRINDO saja, bagaimana dengan toko-toko, perusahaan manufaktur, sampah rumah tangga lainnya? Jelas sekali, luasannya akan berkali-kali lipat dari dampak yang sudah dijelaskan sebelumnya.

#Lalu bagaimana cara mengatasi agar kondisi sampah plastik di Indonesia tercinta ini berkurang?

Jadi sebaiknya saya mulai dari apa yang saya lakukan terlebih dahulu sebelum mencoba untuk mengajak kalian untuk peduli dengan issue seperti ini.

Jadi beberapa waktu yang lalu, saya dan sejumlah teman dari kampus saya membuat semacam gagasan tertulis yang ditujukan ke dikti, yaitu PKM GT. Gagasan kami memiliki judul “Tempat Sampah Pemilah Otomatis: Logam Dan Non Logam“. 

#Jadi apa sih inti dari gagasan ini?

  1. Kami ingin masyarakat gak ribet dalam membuang sampah, karena dengan adanya sensor proximity sampah yang terbuang dipisah secara otomatis baik itu sampah logam dan non-logam. Sehingga, sampah yang sudah terpisah, bisa di reuse, recycle dan akhirnya kita bisa me-reduce kapasitas sampah tersebut.
  2. Kami ingin masyarakat menjadikan aktivitas pemilahan sampah sebagai kebiasaan, memilah sampah-sampah yang bisa didaur ulang dan dengan sampah yang susah untuk didaur ulang.
  3. Dan tentu saja kami ingin menumbuhkan rasa kepedulian masyarakat untuk cinta terhadap lingkungan sekitar dan mewujudkan Indonesia yang bersih dari sampah.



Contoh prototype Tempat Sampah Pemilah Otomatis: Logam dan Non Logam.

Untuk merealisasikan gagasan ini memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena saya saat ini adalah MAHAsiswa maka sudah menjadi ranahnya seorang MAHAsiswa dalam membuat suatu gagasan. Apabila memungkinkan kami juga ingin sekali mengimplementasikan gagasan tersebut jika di support oleh para stakeholders.

Foto ini dikutip dari: TRIBUN JOGJA/KHAERUR REZA

Langkah yang saya lakukan selanjutnya adalah Bersih Sampah di Pantai Parangtritis bersama Gerakan Kepanduan UNISI dan Relawan Rumah Zakat Jogja. Aksi ini kami lakukan pada tanggal 24 April yang lalu. Alhasil kami berhasil mengumpulkan sampah-sampah kedalam belasan trashbag. Iya memang melelahkan, tapi setidaknya kami melakukan aksi yang cukup nyata sebagai bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan. Mari kita pikir, jika ada banyak orang-orang yang peduli seperti ini maka implikasinya Indonesia akan bersih dari sampah karena setiap masyarakatnya sudah anti dalam membuang sampah secara sembarangan. Tidak ada lagi banjir yang parah, tidak ada lagi kekumuhan dan setiap elemen masyarakat Indonesia akan hidup dengan nyaman, aman dan sehat karena terbebas dari gangguan sampah.

Masih banyak lagi aksi-aksi lainnya yang bisa kita lakukan dalam mengurangi kapasitas sampah di Indonesia khususnya. Itu semua akan tergantung dari gagasan, ide-ide kreatif dan kepedulian kalian terhadap lingkungan disekitar kalian. Sekali lagi karena kita MAHAsiswa, maka sudah menjadi ranahnya kita untuk memiliki pola pikir yang jelas tentang pengelolaan sampah. Gak usah mikir terlalu jauh-jauh, hal-hal simple seperti mengurangi konsumsi sampah plastik sehari-hari merupakan aktualisasi yang bisa kita lakukan kok..

Jika saya sudah melakukan aksi-aksi diatas dan InsyaAllah akan melakukan aksi-aksi lainnya dalam mengurangi sampah kedepannya. Bagaimana dengan aksi kalian?

Sabtu, 27 Februari 2016

Hola guys!


Selamat soree, selamat bermalam minggu bagi kalian yang merayakann dan selamat mencari inspirasi bagi kalian yg masih jombloo. Kali ini saya ingin sharing tentang “Kenapa Sih Kita Harus Repot-Repot Kuliah?” Jadi beberapa waktu yang lalu ada seorang teman saya yang menanyakan hal ini dan kemudian munculah inspirasi untuk membahas lebih lanjut mengenai pertanyaannya tersebut. Iya ya? Kenapa sih kok kita repot-repot harus kuliah? 

#Nabi Menyuruh Kita Terus Menuntut ilmu

“Tuntutlah Ilmu hingga ke Liang Lahat” Begitulah sabda Rasullullah SAW yang artinya menyuruh pada kaumnya untuk terus menuntut ilmu tanpa berhenti. Dan hadis ini benar adanya, karena kadar keilmuan seseorang nantinya akan menentukan posisi kehidupan baik di dunia maupun diakhirat.

Seseorang yang berilmu tinggi akan cenderung lebih mudah dalam menjalani kehidupan ini. Dan memiliki peluang lebih besar dalam meraih kesuksesan. Dan begitupula sebaliknya, seseorang yang enggan belajar, maka kehidupannya akan diluputi kesukaran, karena ketinggalan kereta.

Sewaktu kita kelas XII (3 SMA/SMK/sederajat) dulu pastinya kita pernah berpikir, setelah lulus mau lanjut kuliah atau langsung kerja saja ya? Pemikiran galau seperti ini sebenarnya adalah hal yang lumrah dan sering dirasakan oleh kebanyakan anak SMA. 

Biasanya bagi siswa-siswi SMA akan memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan bagi siswa-siswi SMK akan memilih untuk bekerja terlebih dahulu dan kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (itu jika dia masih memiliki semangat belajar dan tidak keenakan mencari uang loh ya).

Penulis dulunya adalah seorang siswa SMK, impian saya waktu itu sih sebenarnya ingin langsung lanjut kuliah. Tapi berhubung orang tua saya tidak mumpuni dalam hal keuangan, saya akhirnya legowo dan mencari cara agar saya bisa meraih impian saya itu tanpa membenani kedua orang tua. Berhubung saya adalah siswa SMK dan memiliki skill yang lebih spesifik dalam pekerjaan (Mekanik Otomotif) dibandingkan siswa-siswi SMA. Lalu tidak lama setelah lulus Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang Otomotif. 

Tujuan saya bekerja saat itu adalah untuk mencari uang dan dari hasil tabungan saya tersebut akan saya gunakan untuk membiayai kuliah saya nantinya. Namun ternyata dengan bekerja sebenarnya selain saya mendapatkan gaji tapi saya juga menemukan banyak hal-hal baru dan dari pengalaman tersebut membuat saya lebih semangat untuk melanjutkan study ke perguruan tinggi. 

Alhasil setelah 3 tahun lamanya saya bekerja dan berkelumit dengan rutinitas pekerjaan dimana saya harus berangkat kerja pagi buta dan pulang ketika matahari terbenam, mereview pelajaran-pelajaran anak-anak SMA dikala waktu senggang, ikut les bahasa inggris (conversation class) sehabis pulang kerja, rajin ngambil jatah lembur agar penghasilan saya juga meningkat, bertemu dengan orang-orang hebat dan mendapatkan pengalaman yang luar biasa bersama mereka di tempat kerja saya. 

Akhirnya dengan bekal perjuangan dan kegigihan tersebut sekarang saya mampu berstatus sebagai “MAHAsiswa” yang BERDIKARI, maksudnya adalah saya dapat membiayai kuliah saya sendiri tanpa membebani kedua orang tua. Iya, saya sekarang kuliah di salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia dan di department International Program pula.

Jadi ketika sekolah dulu saya sudah memantapkan untuk melanjutkan kuliah di Teknik Industri International Program Universitas Islam Indonesia, entah mengapa ketika SMK dulu saya berpikir bahwa ketika lulus kuliah selain saya menjadi mahir dalam bidang Teknik Industri, namun saya juga harus bisa menguasai bahasa inggris. 

Alasan yang simple inilah yang membuat saya melewatkan jatah 2 tahun untuk mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Saya hanya fokus bekerja untuk kuliah di almamater saya saat ini. Yap! I’m falling in love with this choice since a long time ago.


Lalu apakah lantas saya keteteran mengikuti proses kuliah? Jelas tidak, dengan bermodalkan ketekunan, kegigihan, rasa penasaran yang terus menerus dan tidak malu untuk diajari oleh teman-teman yang usianya jauh lebih muda. Maka dari upaya-upaya tersebut, sejauh ini nilai saya masih aman dalam range CUMLAUDE

Lulus dengan title “Cumlaude” sebenarnya memang bukanlah tujuan akhir saya. Saya pikir ketika nanti saya lulus dengan title “Cumlaude”, itu merupakan sebuah bonus dari segala upaya dan kegigihan yang saya keluarkan dalam proses kuliah. Dan memang, lulus dengan title “cumlaude” itu tidak menjamin seorang sarjana menjadi sosok yang hebat, tetapi kelak ketika kita menjadi seorang yang hebat dan memiliki title cumlaude pastinya akan menjadi sesuatu yang lebih berkesan bukan?  

#Terus kenapa harus kuliah?

Untuk memperoleh ilmu, pengalaman, dan atmosfer persaingan yang biasanya akan banyak terjadi di dalam dunia kerja. Ingat yang namanya belajar itu adalah ibadah, walaupun belajar tidak harus di bangku kuliah tapi jika belajar sendiri tanpa ada yang membimbing akan sulit bagi kita untuk berkembang. 

Kuliah tidak bisa memberi kita jaminan akan mendapatkan pekerjaan/karir yang baik tapi dengan kuliah kita akan semakin dekat dengan pekerjaan/karir yang baik.
Maksudnya adalah ketika kita kuliah, kita akan punya lebih banyak teman atau relasi yang memungkinkan kita untuk membentuk jaringan dalam lingkungan. Tentu saja memudahkan dalam mendapat pekerjaan. Lalu kita dapat banyak berkonsultasi dengan dosen terkait pengalamannya dahulu yang mungkin akan dapat menginspirasi kita dalam menggapai kesuksesan.
 

Kadang bagi sebagian kalangan kuliah itu hanya untuk gengsi, agar dia lebih dipandang oleh banyak orang. Tapi sebenarnya dengan kuliah, selain mendapatkan gelar sarjana, banyak hal yang dapat kita lakukan dan itu bermanfaat untuk masyarakat luas. Sama seperti Catur Dharma Perguruan Tinggi: 

1. Pendidikan,
2. Penelitian,
3. Pengabdian Masyarakat, dan
4. Kewirausahaan

Tapi karena tekanan sosial, kebanyakan mahasiswa hanya mengejar status sarjana yang dianggap beken dan hebat agar mendapatkan pekerjaan yang layak.

Di dunia perkuliahan, kita diajarkan juga untuk bersikap mandiri, lebih kritis dan logis akan segala sesuatu, tidak menerima mentah-mentah segala asumsi yang ada di masyarakat, membuat kita lebih siap menjadi “MAHA”siswa yang berdedikasi bagi masyarakat sekitar. Selain itu, kuliah juga bisa jadi ajang expand network yang tepat apabila kita gaul dengan orang-orang yang tepat pula. 

#Lalu apakah kuliah menjamin kita untuk sukses?

Ya, TIDAK juga. Kuliah tidak menjamin kalian akan sukses kelak, buktinya banyak yang tidak kuliah tapi mereka bisa sukses dan yang sarjana masih sibuk mencari lowongan pekerjaan.

Tahu Bill Gates kan? Dulu Beliau berhenti kuliah dan sekarang bisa menjadi orang terkaya di dunia. 
TAPI, Semua manusia di ciptakan berbeda, tidak semua orang bisa seperti Bill Gates. MAKA kuliah bukanlah sebuah JAMINAN kesuksesan, melainkan MODAL kesuksesan.


Ketika kalian kuliah , kalian akan melalui berbagai proses. Kalian tidak hanya mendapat HARDSKILL (Ilmu pengetahuan yang ditekuni) namun kalian juga bisa memperoleh SOFTSKILL atau sebuah keahlian berorganisasi, Berwirausaha, bernegosiasi maupun kepemimpinan.
SOFTSKILL itulah yang juga akan menjadi modal kalian menuju kesuksesan di samping HARDSKILL.

Dengan kuliah maka tentu kita akan mendapat ridho dan kasih sayang Allah SWT, karena Allah SWT senang sekali dengan orang yang berusaha menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. 

Apakah kalian sudah merasa jelas dan telah memiliki alasan yang kuat kenapa kalian harus repot-repot Kuliah?

Kalo belum jelas juga, silakan comment di artikel ini ya..
 
Semoga artikel ini bermanfaat dan menginspirasi guys!

Silakan dishare ke orang banyak dan tunggu artikel-artikel menarik berikutnya ya. Thanks for reading.













Rakhmat's Home Enjoy!