:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Sabtu, 30 Januari 2016


Hello kawans!


Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman saya ketika bekerja dulu. Iya, sebelum saya melanjutkan study saya ke jenjang yang lebih tinggi sebelumnya saya telah bekerja selama hampir 3 tahun lamanya. Itulah kenapa saya dapat menulis ARTIKEL INI, dan diharapkan bisa menginspirasi teman-teman bahwa dengan menunda kuliah kita dapat melakukan banyak hal dan tentunya kita juga akan mendapatkan segudang pengalaman yang sangat berharga. 


Setidaknya, sebelum kita dipertemukan dan mempelajari seabrek teori-teori di dunia perkuliahan, kita tahu cara 
mengaplikasikan teori-teori tersebut secara nyata. Okay, sekian dulu basa-basinya yuk sekarang silakan disimak hal-hal apa saja yang saya temukan ketika bekerja dulu yang saya rangkum dalam beberapa point berikut ini:

1. Berperilaku Baik Maka Lingkungan Kerja Juga Akan Baik Bagimu

Photo credit: www.linkedin.com
Ketika saya pertama kali bekerja pada tahun 2011 yang lalu, saya bingung. Apakah saya dapat beradaptasi cepat dengan rekan-rekan kerja baru saya? Atau malah saya akan disuruh yang aneh-aneh oleh mereka sebagai bentuk perkenalan awal saya dengna mereka "Senioritas" ?
 
Saat itu juga saya memutuskan untuk menjadi diri saya yang apa adanya, saya berperilaku baik, maksudnya adalah saya Berinisiatif untuk melakukan suatu pekerjaan tanpa harus disuruh oleh atasan. Contohnya saja begini: Bersih-bersih area kerja walaupun sebenarnya ini merupakan tanggung jawab bersama, respect dengan rekan-rekan kerja yang umurnya lebih tua dan sebisa mungkin menjadi pekerja yang rajin, disiplin dan berkomitmen atas pekerjaan yang saya lakukan. 

Namun, apabila kita melakukan hal-hal yang sebaliknya, lalu menjadi pekerja yang egois. Tentunya sifat seperti ini tidak disenangi oleh rekan-rekan kerja dimana rasa ketidaksenangan ini dapat membuat kita tidak akan betah, tidak mau lama-lama bekerja disuatu perusahaan karena perilaku egois yang membuat hubungan si pekerja ini dengan rekan lainnya menjadi tidak harmonis. Kalo tidak harmonis, solusinya kalo tidak merubah sikapnya ya resign saja dari tempat kerjanya itu.

2. Kamu Akan Menemukan Tipikal Pekerja Penjilat, Penggosip, Pengusik dan Pe.. Pe.. Lainnya

Photo credit: ikutangabung.blogspot.com
Ini merupakan hal yang akan sering kalian temukan didunia kerja nanti. Jangan kaget apabila ada rekan kerja kalian nantinya yang bersikap manis didepan tetapi menjelek-jelekan performa kerja kalian dibelakang. Lalu, jangan kaget juga apabila kalian menjumpai pekerja yang kesehariannya hanya ngomongin pekerja lain, mulai dari yang menarik untuk didengar sampai hal-hal yang tidak menarik untuk didengar. Padahal kinerja si penggosip ini pun sebenarnya tidaklah lebih baik dari obyek yang dia bicarakan.
 
Sebagai pekerja yang professional kita sebaiknya menghiraukan si rekan Pe.. Pe.. ini, ambil saja hal-hal positif dari mereka dan jauhilah pengaruh negative dari mereka. Selain itu juga kalian sebaiknya fokus dengan jobdesk, buatlah lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Karena apabila kalian terbawa arus si Pe.. Pe.. ini membuat kalian tidak akan betah dan malah cepet-cepet ingin resign dari perusahaan.

Menurut saya pribadi, agar mencapai karier yang bagus maka seorang pekerja yang melakukannya dengan cara menjilat atasan ataupun bermuka dua kepada atasan, durability dia untuk bertahan dalam suatu posisi tidak akan bertahan lama. Kenapa? Karena apabila atasan yang dijilatinya itu sudah tidak memiliki POWER didalam perusahaan, ya kalian juga tidak akan memiliki POWER juga. Lalu, si penjilat ini juga tidak akan bisa menjadi kepala "atasan", karena posisinya yang selalu dibawah lindungan si kepala "Bos".

Beda ceritanya jika kalian dekat dengan atasan kalian tetapi kalian juga dapat membuktikan dengan etika kerja yang professional kepada bos kalian itu. Niscaya kalian akan mendapatkan karier yang cemerlang dengan cepat. Tetapi ketika bos kalian itu sudah tidak memiliki POWER, mungkin saja dia akan merekomendasikan kalian kepada si Bos baru karena kinerja kalian memang dipantaskan untuk menduduki posisi-posisi strategis diperusahaan rekannya tersebut. 

Jadi, tetaplah fokus.. fokus, jangan ladeni si Pe.. Pe.. fokus saja dengan peningkatan peforma kinerjamu di perusahaan.
3. Kalian Harus Tau Kapan Waktunya Untuk Santay Dan Meningkatkan Performa Kerja


Tingkat kesulitan suatu pekerjaan itu tergantung dari posisi dan kualifikasi kalian. Maksudnya adalah jika kalian memiliki background Sarjana, maka kesehariaan kalian dalam melakukan suatu pekerjaan akan memacumu untuk berinovasi. Tidak jarang para Sarjana ini mental workloadnya tinggi karena si Bos tidak puas dengan inovasi yang diberikan oleh si Sarjana.

Lalu, bagi yang memiliki background SMA/SMK/sederajat biasanya mereka akan terkena Physical Workload yang berlebih, iya wajar aja sih. Si lulusan SMA/SMK ini posisinya kalo tidak buruh ya karyawan biasa dimana kesehariannya melakukan aktivitas-aktivitas kerja fisik. 

Let’s say he’s a employer in automotive manufacturing company. Maka si buruh ini dalam interval waktu 3 jam akan bekerja terus menerus, looping, mengulangi ritme kerja yang sama berkali-kali dan hanya diberikan sedikit waktu untuk beristirahat dan kemudian mengulangi interval kerja yang sama sampai waktu kerjanya berakhir.

Jadi, yang mau saya share adalah bagaimana kalian dapat menyikapi suatu pekerjaan dengan tepat dan akurat. Kalian harus tau kapan waktunya untuk bersantai ria dan kapan waktunya untuk meningkatkan performa kerja. 

Caranya, apabila kalian seorang Sarjana dan sudah tidak kuat lagi menerima complaint dari si Bos, let's be relax. Kalian bisa relax dengan berolahraga atau melakukan hobi kalian misalnya. Tentu saja hal seperti ini akan menjadi energy recharge dan memberikan kalian inspirasi agar dapat melakukan inovasi baru diperusahaan. Percayalah, si Bos itu memang kerjaanya adalah complaint your work performance, tapi dibalik itu semua dia memiliki tujuan yang baik juga kok. Tinggal bagaimana kita dapat menyikapinya saja bukan? Senyum dan percaya dirilah terhadap segala rintangan kehidupan ya. 


You deserve to get happiness if you can accomplish your goal by enjoying what you do.


4. Dimarahi Bos? Jangan Dipikir Pusing! Tingkatkan Saja Performa Kerjamu Secara Konsisten

Photo credit: www.thedailyheckle.net
Jenis-jenis Bos marah itu beda-beda, tergantung situasi dan mood si Bos juga. Kadang ada Bos yang memarahi pekerjanya secara frontal, kadang ada juga Bos yang kalo marah hanya mendiamkan si Pekerja lalu tiba-tiba meng-cut jatah lembur, fasilitas dan lain-lainnya. Nah bagaimana sih caranya menyikapi karakteristik Bos-Bos yang seperti itu? Relax.. kalian gak usah merenungi atas amarah si Bos. Cukup tingkatkan performa kerja kalian dan konsisten dengan peningkatan performa kerja tersebut. 

Contohnya, apabila si bos complaint karena kalian tidak teliti dalam Procurement “Mendapatkan alat-alat perbekalan yang dibutuhkan perusahaan”, maka kalian tingkatkan performa kalian dengan mengoptimalisasi alat-alat yang sudah ada agar menciptakan output yang sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Nah jika kalian dapat memberikan solusi seperti ini, hati si Bos pelan-pelan akan melunak kok. Malah apabila kalian konsisten melakukan improvement diperusahaan, kalian akan dengan cepatnya dipromosikan untuk naik jabatan atau malah diberikan tawaran kerja diperusahaan lain dengan jabatan dan salary yang lebih tinggi. 

Once again relax with your problems and do improvement!

5. Ciptakan Kekeluargaan Di Lingkugan Kerja


That’s absolutely right! Jika kalian menanamkan rasa kekeluargaan di tempat kerja kalian, maka segala permasalahan pekerjaan yang dihadapi akan dengan mudah teratasi. Tidak ada lagi sikap egois dari masing-masing pekerja dan terciptanya sense of belonging, lalu setiap masalah akan dipandang sebagai kesempatan. Iya, kesempatan untuk masing-masing individu didalam team untuk berkembang. Intinya, kalian akan merasa nyaman dan tidak lagi terbebani dengan segala problematika pekerjaan karena kalian sudah bisa saling back-up satu sama lain. Malah, tidak hanya urusan pekerjaan saja, kalian juga bisa saling back up untuk urusan-urusan diluar pekerjaan. 

Maka dari itu, menciptakan kekeluargaan dilingkungan kerja menjadi penting agar terciptanya peningkatan kualitas dari elemen-elemen tiap perusahaan. Kalo kekeluargaan sudah tercipta sih, kalian akan pikir panjang untuk resign dari perusahaan tersebut. Walaupun salary yang kalian terima hanya pas-pasan. Kalian tinggal mensyukuri segala nikmat yang diberikan, dan jika ingin mendapatkan penghasilan yang lebih, ya berbuat lebih dengan cara nyambi berwirausaha toh. Hehehe..

Namun apabila kalian ingin lebih berkembang dengan cara resign dan meninggalkan atmosfer kekeluargaan yang telah tercipta dilingkungan  kerja sebelumnya. Percayalah kekeluargaan tersebut akan bertahan lama, diluar sana hubungan kekeluargaan kalian masih akan terus tercipta walaupun bendera perusahaan kalian berbeda-beda. 

That’s why It’s natural if you’re being a great person in the near future, and there will many people support you to get up from your falling.

6. Bekerja Di Perusahaan Besar Atau Memilih Bekerja Start Up Company?

Photo credit: blog.sribu.com
Akhirnya kita sampai juga di point terakhir pada sharing-sharing saya kali ini. Ini merupakan sebuah pilihan. Bagi kalian yang memiliki impian untuk menjadi eksekutif muda dengan memiliki posisi tinggi disebuah perusahaan, maka pilihan untuk memulai karier di start-up company adalah pilihan yang tepat. Tidak perlu memakan waktu belasan

atau puluhan tahun, jika performa kerja kalian bagus maka dengan hitungan beberapa tahun saja kalian akan cepat dipromosikan sebagai Manager dan kemudian menjadi seorang Director.

Tapi jika kalian lebih tertarik untuk bisa bekerja di perusahaan yang nama perusahaanya cukup prestisius, maka kalian harus memberikan bukti performa yang lebih, lebih, lebih dari kata bagus dan kemudian baru kalian dapat mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Karena kalian akan bersaing dengan ribuan karyawan lainnya untuk mendapatkan posisi strategis tersebut.


Lalu, apakah dari segi penghasilan/salary perusahaan start-up kalah dengan perusahaan multinational? Belum tentu! Malah jika kita compare dalam keadaan saat ini kita masih fresh graduated di perusahaan start-up company dan multinational company, sebenarnya perbedaan salary yang kita dapatkan tidaklah begitu jauh. Namun, coba kita lihat, amati dan tanyakan kepada para eksekutif muda yang sudah berkiprah didunia pekerjaan yang berbeda ini. Dalam beberapa tahun saja, dengan peningkatkan performa kerja yang sama sebenarnya, salary kedua fresh graduated ini akan menjadi berbeda. Karena pekerja di start-up company akan mendapatkan peningkatan salary yang konsisten naik ditiap tahun dan malah apabila dalam beberapa tahun si pekerja ini menduduki posisi penting diperusahaan maka salarynya akan menjadi berkali-kali lipat. 

Tapi, untuk pekerja yang berada di multinational company salarynya akan konsisten. Mengikuti trend UMR yang naik tiap tahun. Dan syukur2 jika performa pekerjaan bagus, mereka bisa dikasih bonus lebih oleh perusahaan.


Disini saya tidak mengatakan bekerja di start-up company lebih baik dari multinational company, tetapi saya hanya memberikan pandangan kepada kalian bahwa bekerja diperusahaan start-up itu cukuplah menarik. Tapi salary yang didapatkan sebenarnya berbanding lurus juga dengan usaha kita. Kalo di perusahaan start-up, pastilah energi yang kita curahkan akan lebih banyak daripada bekerja di multinational company yang system kerjanya sudah terbentuk dan kuat.
It’s your own choice to do what you like, people just give you options and It's your turn to decide your future.

Okay kawans! Cukup sekian dulu sharing-sharingnya. Iya kali ini saya hanya fokus sharing tentang lika-liku hidup seorang Pekerja dulu ya. Sometimes, i will share all about entrepreneurship, and yet i don't have really much experience on it. However, I need to accomplish my goal to be entrepreneur.. yeah success entrepreneur that can be useful to myself, environment and other people.

Semoga bermanfaat! :D

Sabtu, 16 Januari 2016

Hello kawans!

Di weekend kali ini saya ingin sharing-sharing tentang pengalaman yang baru saja saya lewati yaitu membuat video Speech Composing, Iya speech composing semacam parodinya Arya Wiguna itu loh. Bagi yang belum tahu apa itu speech composing, speech composing adalah cara seorang speech composer mengolah suatu file tertentu yang didalamnya terdapat kata-kata yang akan disusun menjadi lirik lagu, biasanya berupa file video yang terlebih dahulu di-convert kedalam format wave (audio). Nah untuk lebih jelasnya lagi, silakan ditonton dulu contoh video speech composing hasil karya dari kolaborasi saya dengan Mas Dinar Nur Rahmawan, seorang teman saya dari program development di IP UII dan sekaligus alumnus Ilkom UII angkatan 2011.

Happy watching!




Bagaimana? Menarik bukan? Yup jujur saja, video speech composing tersebut dibuat dalam waktu 2 hari saja, iya 2 hari saja. Tapi yaa ngerjainnya begadang sampai semalam suntuk. Sebenarnya, video ini bukan hasil karya saya, saya hanya bantu doa, menemani mas dinar merangkai kata-kata hingga menjadi lyric sampai menyemangatinya dalam aransemen lagu. Ya semacam asistennya gitu lah. Tapi dari pengalaman ini, saya mendapatkan pengalaman baru. Saya percaya bahwa dari pengalaman ini akan merangsang pola pikir kreatif saya untuk melakukan hal-hal keren dan 
inspiratif seperti halnya yang dilakukan Mas Dinar ini. 

Foto ini dikutip dari: www.youtube.com
Jadi pada mulanya, ide video speech composing ini tercetus karena saya dan Mas Dinar Nur Rahmawan terinspirasi dari karya seorang Youtuber, namanya “Eka Gustiwana”. Siapa sih dia? Coba kalian tonton video speech composingnya yang menurut saya sangat LEGEND!



Lucu dan menarik sekali bukan videonya? Pak presiden kita saja bisa dibuatnya menyanyi dengan bagus looh. Jikalau mas Eka Gustiwana ahli dalam membuat video speech composing semacam itu, maka saya dan mas dinar akhirnya memutuskan membuat video speech composing yang agak sedikit berbeda. Dimana lyric dan objek dari materi video yang kita pakai menggunakan bahasa Inggris dan tidak menggunakan video2 dari figur terkenal, tetapi kami memakai figur2 yang ada didalam komunitas saya “International Buddy UII”. Diharapkan sih kedepannya akan muncul lagi video-video menarik lainnya yang gak kalah seru, lucu dan menarik dari video speech composing ini. Jadi mohon supportnya deh ya! 

Bukan hanya sharing tentang speech composing, tapi saya juga mau sharing nih tentang proses pembuatan video speech composing, apa aja sih?

1. Tentukan video yang akan kita olah, lalu convert kedalam format MP3 dengan   menggunakan software video converter, contohnya software Emisoft.
2. Setelah video-nya kita pelajari, tentukan konsep musiknya seperti genre, nada dasar, tempo dan struktur lagunya (intro, verse, chorus, interlude, outro dst.)
3. Buka software digital audio workstation (DAW) yang biasa kamu gunakan (spt. Nuendo, Sonar, Pro Tool dll.), buat new project, import MP3 ke project, kemudian bikin musik dasar untuk guide seperti piano, gitar atau seruling. Ya dilakukan dengan cara digital loh ya.
4. Lakukan pengeditan terhadap file MP3 tadi agar benar-benar klop dengan struktur lagu, nada dasar, tempo dan chord progression-nya. Disinilah dibutuhkan kepiawaian           seseorang dalam mengolah data wave, yaitu dengan cara cut & paste untuk memotong dan menyambung, atur tempo, naik-turunkan nada (untuk yang satu ini bisa menggunakan software pitch correction seperti Melodyne, Waves Tune, Auto Tune, dll).
5. Setelah struktur lagu selesai (hasil audio editing benar-benar sudah klop dengan music dasarnya), maka saatnya dibuatkan aransemen musiknya, dilanjutkan proses mixing & mastering. Jika kamu kurang paham dengan proses mixing & mastering, cari aja deh tutorialnya di youtube ya.
6. Proses terakhir adalah penggabungan audio (lagu) dan video dengan menggunakan video editor (yg paling popular adalah Windows Movie Maker, Sony Vegas Pro atau Adobe Premiere).
Gimana? Gak mudah kan? Hahaha, perfect practice makes perfect. Yang jelas terimakasih kepada Eka Gustiwana yang katanya dijuluki sebagai pelopor video-video speech composing. Terimakasih juga kepada Mas Dinar yang telah mengajak saya untuk membuat video speech composing yang keren ini ya. Saya dapat pengalaman dan pelajaran baru disini. Hidup saya pun menjadi lebih berharga daripada nongkrong-nongkrong gak jelas. Hoho.

Untuk itu, yuk sama-sama belajar. Yang penting jangan sampai kalian menutup kreativitas kalian karena pesimis terhadap sesuatu ya. Karena sekali pesimis, maka kalian akan selalu pesimis dalam menghadapi masalah-masalah lain kedepannya. Do what yo love! Karena hanya kalianlah yang bisa menentukan kemana arah dan tujuan hidup kalian, bukan orang lain, bukan siapapun. Apasiihh.. tapi bener juga. :D


CHEERS! I hope that this article give you an inspiration! Thus, embrace yourself for my new article next week ya!


Sabtu, 09 Januari 2016

Halo kawans!! 

Setelah sebulan ini saya vakum membuat artikel dikarenakan saya sibuk menemani bule-bule yang sedang mengikuti program di jogja dan juga ngurusin project-project di kampus. Maka biar inspirasi pengalaman kemarin gak lenyap begitu saja, maka saya ingin menulis dan sharing ke temen-temen semua nih tentang pengalaman saya berteman dengan para bule. Yuk mari dibaca apa-apa saja yang menjadi tantangan jika kita mengajak main “Bule” ke Indonesia. Happy reading!

1. Communication Skills




Seperti yang kita ketahui bahwa Communication Skills adalah salah satu softskill yang paling penting untuk membuat seseorang memiliki “Jati Diri”. Selain itu juga dengan Communication Skills kita dapat membangun jaringan baik itu didalam maupun diluar negeri. Tak heran jika orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang hebat, mereka menduduki posisi-posisi penting diberbagai perusahaan, pemerintahan maupun menjadi orang yang berpengaruh di lingkungan masyarakat kota sampai di kampung-kampung. 

Okay kita kembali lagi ke fokus artikel ini, hal yang menjadi tantangan bagi kita ketika berkomunikasi dengan para “Bule” adalah pronounciation atau pelafalan kata yang aksennya berbeda-beda disetiap negara. Seringkali kita menemukan pelafalan yang bias lalu membuat kita susah mengartikan kata tersebut dan membuat kita *krik krik* saat akan memulai percakapan dengan para “Bule”. Contohnya Beach = Pantai dengan B*tch, bisa kalian artikan sendiri lah ya..

Selain itu juga terkadang ada kata-kata Bahasa inggris yang dibeberapa negara it’s not common language in their country. Contohnya bicycle adalah sepeda dalam Bahasa inggris pada umumnya, tetapi kalo di Australia sepeda disana disebut sebagai Push Bike. Lalu ada lagi kata lain seperti “Thongs” yang artinya sandal jepit. Loh beda-beda kan istilahnya? Yap, makanya kita perlu memperkaya pembendaharaan kata kita sedari sekarang agar tidak terjadi miss communication.

Jadi bagi kita yang masih kesulitan dalam berkomunikasi berbahasa inggris, Just let it go! Percaya diri aja, karena jika kita sering berkomunikasi dalam berbahasa inggris apalagi sama bule-bule, InsyaAllah kemampuan berbahasa inggris kita juga akan Level Up! Seiring dengan berjalanya waktu.

2. Adjusting with local cultures and norms over there.



Ketika ada bule yang pertama kali datang ke Indonesia, biasanya mereka langsung dihadapi sama yang namanya Shock Culture, entah itu dari makanan, lingkungan atau dari perilaku-perilaku masyarakat sekitar yang tidak mereka temukan sebelumnya dinegara asal mereka. Pengalaman yang paling menarik tentang penyesuaian para bule ini ketika berada di Indonesia adalah tentang makanan “PEDAS”. 

Yup! Awalnya mereka penasaran ingin mencoba masakan pedas ini, namun kemudian mereka malah kapok karena rasa pedas itu membuat mereka bergelimang air mata sampai mereka memperlihatkan muka polosnya yang sedang kepedasan. Lucu lah pokoknya kalo kalian diberi kesempatan melihat ekspresi kepedasan mereka itu.

Ternyata, setelah beberapa minggu sudah beradaptasi dengan makanan Indonesia termasuk makanan pedas. Sekembalinya mereka ke negara asalnya, mereka malah merindukan sensasi masakan pedas yang pernah mereka rasakan di Indonesia, malah temen bule saya sampai bilang ini ke orang tuanya ketika kembali ke Australia 


“Where is the spicy food? I missed them a lot!”

Ternyata dibalik pengalaman bergelimang air mata pada pertemuan pertama dengan si pedas, tapi si pedas juga membuat si bule rindu ya.

Selain tentang makanan, sebenarnya banyak hal yang menjadi Shock Culture bagi para bule ini. Seperti macet, perilaku masyarakat jawa yang murah senyum dan beraneka ragamnya Bahasa yang ada di Indonesia. Jadi kita sebagai temannya mereka, harus bisa mendampingi dan menjelaskan hal-hal yang ada di Indonesia kepada mereka dengan benar dong ya. Agar mereka lebih mudah beradaptasi dan menumbuhkan rasa cinta yang besar mereka terhadap Indonesia.

3. Different personality and self control.


Ingat… ingat, ketika kita berteman dengan para bule jangan biarkan gaya hidup kita juga ikut kebule-bulean. Kalian tahu sendiri kan kalau para bule itu biasanya suka minum-minum? Bukan air putih.. tapi air.. (ya kalian bisa tafsirkan sendiri) which is that drink is not allowed to drink in Islamic religion. Maka jadilah pribadi yang apa adanya dengan ciri khas ke Indonesiaan yang kalian miliki dan tunjukan kepada mereka bahwa kita memiliki karakter, adat istiadat dan kebudayaan dimana hal-hal tersebut tidak mereka jumpai di negaranya masing-masing. Mereka pastinya akan terkesan dan respect dengan “choice” kita itu kok.

4. Personal space



Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan personal space sebagai jarak/daerah disekitar individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.

Ini sangat berlaku bagi para bule loh kawans. Jadi apabila kita memiliki “habits” suka ngurusuin permasalahan orang lain, maka jangan sekali-kali mencoba untuk ikut campur dalam masalah teman bule kita ya. Bukannya menolong, tapi malah kita dianggap “annoying” bagi mereka. Kenapa? Karena pada saat-saat tertentu mereka ingin sendiri, menikmati hidup dan mengatasi masalahnya sendiri tanpa ada intevensi dari orang luar. 

Beda ceritanya jika mereka meminta kita untuk membantunya dalam mengatasi permasalahan yang mereka hadapi, barulah kita bantu mereka dengan kemampuan yang kita miliki. Jadi bacalah situasi dan cobalah untuk menjadi peka terhadap teman bulemu yaa. Jika kalian berhasil menerapkan ini maka akan membuat hubungan pertemanan kalian dengan si Bule menjadi sangat dekat.

5. Communicate norms/habit/local values



Sebenarnya di point ini hampir sama pembahasanya dengan point ke-2 pada artikel ini, tapi bedanya adalah di point ini saya ingin menjelaskan bagaimana cara kita untuk memberitahu si bule apa-apa saja sih norma-norma, kebiasaan ataupun adat istiadat yang ada di Indonesia? 

Tentunya setiap daerah memiliki kebiasaan dan adat dan istiadat yang berbeda-beda bukan? Jadi, walaupun misalnya kita memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi berbahasa inggris, maka jelaskan saja hal-hal yang baik kepada mereka dan biarkan mereka merasakan keanehan dan beradaptasi dengan sendirinya tentang shock culture yang mereka temui. 

Toh nantinya mereka akan paham juga kok kenapa sih orang-orang di jogja suka tersenyum ketika kita berpapasan, mereka juga akan paham dengan sendirinya kok kenapa ada tukang parkir liar disetiap warung makan, dan mereka pasti juga akan terbiasa kok dengan shock culture yang mereka temui di Indonesia.

Tapi alangkah baiknya lagi apabila kita bisa menjelaskan setiap detail shock culture kepada mereka, itu akan mempermudah mereka dalam proses adaptasi dengan keadaan lingkungan yang ada di Indonesia tentunya. 

Tapi menurut pendapat saya sih, tanpa perlu dijelaskan secara detail biarkan saja si para bule ini merasakan sendiri shock culture tersebut, biarkan mereka mengeksplor semua shock culture yang ada dan kemudian beradaptasi. Toh esensi travelling bagi para traveller adalah menjelajah segala tempat serta menjumpai segala hal-hal menarik ataupun tidak menarik dengan keunikan di daerah tujuannya bukan?


Rakhmat's Home Enjoy!