:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Sabtu, 30 Januari 2016


Hello kawans!


Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman saya ketika bekerja dulu. Iya, sebelum saya melanjutkan study saya ke jenjang yang lebih tinggi sebelumnya saya telah bekerja selama hampir 3 tahun lamanya. Itulah kenapa saya dapat menulis ARTIKEL INI, dan diharapkan bisa menginspirasi teman-teman bahwa dengan menunda kuliah kita dapat melakukan banyak hal dan tentunya kita juga akan mendapatkan segudang pengalaman yang sangat berharga. 


Setidaknya, sebelum kita dipertemukan dan mempelajari seabrek teori-teori di dunia perkuliahan, kita tahu cara 
mengaplikasikan teori-teori tersebut secara nyata. Okay, sekian dulu basa-basinya yuk sekarang silakan disimak hal-hal apa saja yang saya temukan ketika bekerja dulu yang saya rangkum dalam beberapa point berikut ini:

1. Berperilaku Baik Maka Lingkungan Kerja Juga Akan Baik Bagimu

Photo credit: www.linkedin.com
Ketika saya pertama kali bekerja pada tahun 2011 yang lalu, saya bingung. Apakah saya dapat beradaptasi cepat dengan rekan-rekan kerja baru saya? Atau malah saya akan disuruh yang aneh-aneh oleh mereka sebagai bentuk perkenalan awal saya dengna mereka "Senioritas" ?
 
Saat itu juga saya memutuskan untuk menjadi diri saya yang apa adanya, saya berperilaku baik, maksudnya adalah saya Berinisiatif untuk melakukan suatu pekerjaan tanpa harus disuruh oleh atasan. Contohnya saja begini: Bersih-bersih area kerja walaupun sebenarnya ini merupakan tanggung jawab bersama, respect dengan rekan-rekan kerja yang umurnya lebih tua dan sebisa mungkin menjadi pekerja yang rajin, disiplin dan berkomitmen atas pekerjaan yang saya lakukan. 

Namun, apabila kita melakukan hal-hal yang sebaliknya, lalu menjadi pekerja yang egois. Tentunya sifat seperti ini tidak disenangi oleh rekan-rekan kerja dimana rasa ketidaksenangan ini dapat membuat kita tidak akan betah, tidak mau lama-lama bekerja disuatu perusahaan karena perilaku egois yang membuat hubungan si pekerja ini dengan rekan lainnya menjadi tidak harmonis. Kalo tidak harmonis, solusinya kalo tidak merubah sikapnya ya resign saja dari tempat kerjanya itu.

2. Kamu Akan Menemukan Tipikal Pekerja Penjilat, Penggosip, Pengusik dan Pe.. Pe.. Lainnya

Photo credit: ikutangabung.blogspot.com
Ini merupakan hal yang akan sering kalian temukan didunia kerja nanti. Jangan kaget apabila ada rekan kerja kalian nantinya yang bersikap manis didepan tetapi menjelek-jelekan performa kerja kalian dibelakang. Lalu, jangan kaget juga apabila kalian menjumpai pekerja yang kesehariannya hanya ngomongin pekerja lain, mulai dari yang menarik untuk didengar sampai hal-hal yang tidak menarik untuk didengar. Padahal kinerja si penggosip ini pun sebenarnya tidaklah lebih baik dari obyek yang dia bicarakan.
 
Sebagai pekerja yang professional kita sebaiknya menghiraukan si rekan Pe.. Pe.. ini, ambil saja hal-hal positif dari mereka dan jauhilah pengaruh negative dari mereka. Selain itu juga kalian sebaiknya fokus dengan jobdesk, buatlah lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Karena apabila kalian terbawa arus si Pe.. Pe.. ini membuat kalian tidak akan betah dan malah cepet-cepet ingin resign dari perusahaan.

Menurut saya pribadi, agar mencapai karier yang bagus maka seorang pekerja yang melakukannya dengan cara menjilat atasan ataupun bermuka dua kepada atasan, durability dia untuk bertahan dalam suatu posisi tidak akan bertahan lama. Kenapa? Karena apabila atasan yang dijilatinya itu sudah tidak memiliki POWER didalam perusahaan, ya kalian juga tidak akan memiliki POWER juga. Lalu, si penjilat ini juga tidak akan bisa menjadi kepala "atasan", karena posisinya yang selalu dibawah lindungan si kepala "Bos".

Beda ceritanya jika kalian dekat dengan atasan kalian tetapi kalian juga dapat membuktikan dengan etika kerja yang professional kepada bos kalian itu. Niscaya kalian akan mendapatkan karier yang cemerlang dengan cepat. Tetapi ketika bos kalian itu sudah tidak memiliki POWER, mungkin saja dia akan merekomendasikan kalian kepada si Bos baru karena kinerja kalian memang dipantaskan untuk menduduki posisi-posisi strategis diperusahaan rekannya tersebut. 

Jadi, tetaplah fokus.. fokus, jangan ladeni si Pe.. Pe.. fokus saja dengan peningkatan peforma kinerjamu di perusahaan.
3. Kalian Harus Tau Kapan Waktunya Untuk Santay Dan Meningkatkan Performa Kerja


Tingkat kesulitan suatu pekerjaan itu tergantung dari posisi dan kualifikasi kalian. Maksudnya adalah jika kalian memiliki background Sarjana, maka kesehariaan kalian dalam melakukan suatu pekerjaan akan memacumu untuk berinovasi. Tidak jarang para Sarjana ini mental workloadnya tinggi karena si Bos tidak puas dengan inovasi yang diberikan oleh si Sarjana.

Lalu, bagi yang memiliki background SMA/SMK/sederajat biasanya mereka akan terkena Physical Workload yang berlebih, iya wajar aja sih. Si lulusan SMA/SMK ini posisinya kalo tidak buruh ya karyawan biasa dimana kesehariannya melakukan aktivitas-aktivitas kerja fisik. 

Let’s say he’s a employer in automotive manufacturing company. Maka si buruh ini dalam interval waktu 3 jam akan bekerja terus menerus, looping, mengulangi ritme kerja yang sama berkali-kali dan hanya diberikan sedikit waktu untuk beristirahat dan kemudian mengulangi interval kerja yang sama sampai waktu kerjanya berakhir.

Jadi, yang mau saya share adalah bagaimana kalian dapat menyikapi suatu pekerjaan dengan tepat dan akurat. Kalian harus tau kapan waktunya untuk bersantai ria dan kapan waktunya untuk meningkatkan performa kerja. 

Caranya, apabila kalian seorang Sarjana dan sudah tidak kuat lagi menerima complaint dari si Bos, let's be relax. Kalian bisa relax dengan berolahraga atau melakukan hobi kalian misalnya. Tentu saja hal seperti ini akan menjadi energy recharge dan memberikan kalian inspirasi agar dapat melakukan inovasi baru diperusahaan. Percayalah, si Bos itu memang kerjaanya adalah complaint your work performance, tapi dibalik itu semua dia memiliki tujuan yang baik juga kok. Tinggal bagaimana kita dapat menyikapinya saja bukan? Senyum dan percaya dirilah terhadap segala rintangan kehidupan ya. 


You deserve to get happiness if you can accomplish your goal by enjoying what you do.


4. Dimarahi Bos? Jangan Dipikir Pusing! Tingkatkan Saja Performa Kerjamu Secara Konsisten

Photo credit: www.thedailyheckle.net
Jenis-jenis Bos marah itu beda-beda, tergantung situasi dan mood si Bos juga. Kadang ada Bos yang memarahi pekerjanya secara frontal, kadang ada juga Bos yang kalo marah hanya mendiamkan si Pekerja lalu tiba-tiba meng-cut jatah lembur, fasilitas dan lain-lainnya. Nah bagaimana sih caranya menyikapi karakteristik Bos-Bos yang seperti itu? Relax.. kalian gak usah merenungi atas amarah si Bos. Cukup tingkatkan performa kerja kalian dan konsisten dengan peningkatan performa kerja tersebut. 

Contohnya, apabila si bos complaint karena kalian tidak teliti dalam Procurement “Mendapatkan alat-alat perbekalan yang dibutuhkan perusahaan”, maka kalian tingkatkan performa kalian dengan mengoptimalisasi alat-alat yang sudah ada agar menciptakan output yang sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Nah jika kalian dapat memberikan solusi seperti ini, hati si Bos pelan-pelan akan melunak kok. Malah apabila kalian konsisten melakukan improvement diperusahaan, kalian akan dengan cepatnya dipromosikan untuk naik jabatan atau malah diberikan tawaran kerja diperusahaan lain dengan jabatan dan salary yang lebih tinggi. 

Once again relax with your problems and do improvement!

5. Ciptakan Kekeluargaan Di Lingkugan Kerja


That’s absolutely right! Jika kalian menanamkan rasa kekeluargaan di tempat kerja kalian, maka segala permasalahan pekerjaan yang dihadapi akan dengan mudah teratasi. Tidak ada lagi sikap egois dari masing-masing pekerja dan terciptanya sense of belonging, lalu setiap masalah akan dipandang sebagai kesempatan. Iya, kesempatan untuk masing-masing individu didalam team untuk berkembang. Intinya, kalian akan merasa nyaman dan tidak lagi terbebani dengan segala problematika pekerjaan karena kalian sudah bisa saling back-up satu sama lain. Malah, tidak hanya urusan pekerjaan saja, kalian juga bisa saling back up untuk urusan-urusan diluar pekerjaan. 

Maka dari itu, menciptakan kekeluargaan dilingkungan kerja menjadi penting agar terciptanya peningkatan kualitas dari elemen-elemen tiap perusahaan. Kalo kekeluargaan sudah tercipta sih, kalian akan pikir panjang untuk resign dari perusahaan tersebut. Walaupun salary yang kalian terima hanya pas-pasan. Kalian tinggal mensyukuri segala nikmat yang diberikan, dan jika ingin mendapatkan penghasilan yang lebih, ya berbuat lebih dengan cara nyambi berwirausaha toh. Hehehe..

Namun apabila kalian ingin lebih berkembang dengan cara resign dan meninggalkan atmosfer kekeluargaan yang telah tercipta dilingkungan  kerja sebelumnya. Percayalah kekeluargaan tersebut akan bertahan lama, diluar sana hubungan kekeluargaan kalian masih akan terus tercipta walaupun bendera perusahaan kalian berbeda-beda. 

That’s why It’s natural if you’re being a great person in the near future, and there will many people support you to get up from your falling.

6. Bekerja Di Perusahaan Besar Atau Memilih Bekerja Start Up Company?

Photo credit: blog.sribu.com
Akhirnya kita sampai juga di point terakhir pada sharing-sharing saya kali ini. Ini merupakan sebuah pilihan. Bagi kalian yang memiliki impian untuk menjadi eksekutif muda dengan memiliki posisi tinggi disebuah perusahaan, maka pilihan untuk memulai karier di start-up company adalah pilihan yang tepat. Tidak perlu memakan waktu belasan

atau puluhan tahun, jika performa kerja kalian bagus maka dengan hitungan beberapa tahun saja kalian akan cepat dipromosikan sebagai Manager dan kemudian menjadi seorang Director.

Tapi jika kalian lebih tertarik untuk bisa bekerja di perusahaan yang nama perusahaanya cukup prestisius, maka kalian harus memberikan bukti performa yang lebih, lebih, lebih dari kata bagus dan kemudian baru kalian dapat mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Karena kalian akan bersaing dengan ribuan karyawan lainnya untuk mendapatkan posisi strategis tersebut.


Lalu, apakah dari segi penghasilan/salary perusahaan start-up kalah dengan perusahaan multinational? Belum tentu! Malah jika kita compare dalam keadaan saat ini kita masih fresh graduated di perusahaan start-up company dan multinational company, sebenarnya perbedaan salary yang kita dapatkan tidaklah begitu jauh. Namun, coba kita lihat, amati dan tanyakan kepada para eksekutif muda yang sudah berkiprah didunia pekerjaan yang berbeda ini. Dalam beberapa tahun saja, dengan peningkatkan performa kerja yang sama sebenarnya, salary kedua fresh graduated ini akan menjadi berbeda. Karena pekerja di start-up company akan mendapatkan peningkatan salary yang konsisten naik ditiap tahun dan malah apabila dalam beberapa tahun si pekerja ini menduduki posisi penting diperusahaan maka salarynya akan menjadi berkali-kali lipat. 

Tapi, untuk pekerja yang berada di multinational company salarynya akan konsisten. Mengikuti trend UMR yang naik tiap tahun. Dan syukur2 jika performa pekerjaan bagus, mereka bisa dikasih bonus lebih oleh perusahaan.


Disini saya tidak mengatakan bekerja di start-up company lebih baik dari multinational company, tetapi saya hanya memberikan pandangan kepada kalian bahwa bekerja diperusahaan start-up itu cukuplah menarik. Tapi salary yang didapatkan sebenarnya berbanding lurus juga dengan usaha kita. Kalo di perusahaan start-up, pastilah energi yang kita curahkan akan lebih banyak daripada bekerja di multinational company yang system kerjanya sudah terbentuk dan kuat.
It’s your own choice to do what you like, people just give you options and It's your turn to decide your future.

Okay kawans! Cukup sekian dulu sharing-sharingnya. Iya kali ini saya hanya fokus sharing tentang lika-liku hidup seorang Pekerja dulu ya. Sometimes, i will share all about entrepreneurship, and yet i don't have really much experience on it. However, I need to accomplish my goal to be entrepreneur.. yeah success entrepreneur that can be useful to myself, environment and other people.

Semoga bermanfaat! :D

0 komentar:

Posting Komentar

Rakhmat's Home Enjoy!