:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Sabtu, 09 Januari 2016

Halo kawans!! 

Setelah sebulan ini saya vakum membuat artikel dikarenakan saya sibuk menemani bule-bule yang sedang mengikuti program di jogja dan juga ngurusin project-project di kampus. Maka biar inspirasi pengalaman kemarin gak lenyap begitu saja, maka saya ingin menulis dan sharing ke temen-temen semua nih tentang pengalaman saya berteman dengan para bule. Yuk mari dibaca apa-apa saja yang menjadi tantangan jika kita mengajak main “Bule” ke Indonesia. Happy reading!

1. Communication Skills




Seperti yang kita ketahui bahwa Communication Skills adalah salah satu softskill yang paling penting untuk membuat seseorang memiliki “Jati Diri”. Selain itu juga dengan Communication Skills kita dapat membangun jaringan baik itu didalam maupun diluar negeri. Tak heran jika orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang hebat, mereka menduduki posisi-posisi penting diberbagai perusahaan, pemerintahan maupun menjadi orang yang berpengaruh di lingkungan masyarakat kota sampai di kampung-kampung. 

Okay kita kembali lagi ke fokus artikel ini, hal yang menjadi tantangan bagi kita ketika berkomunikasi dengan para “Bule” adalah pronounciation atau pelafalan kata yang aksennya berbeda-beda disetiap negara. Seringkali kita menemukan pelafalan yang bias lalu membuat kita susah mengartikan kata tersebut dan membuat kita *krik krik* saat akan memulai percakapan dengan para “Bule”. Contohnya Beach = Pantai dengan B*tch, bisa kalian artikan sendiri lah ya..

Selain itu juga terkadang ada kata-kata Bahasa inggris yang dibeberapa negara it’s not common language in their country. Contohnya bicycle adalah sepeda dalam Bahasa inggris pada umumnya, tetapi kalo di Australia sepeda disana disebut sebagai Push Bike. Lalu ada lagi kata lain seperti “Thongs” yang artinya sandal jepit. Loh beda-beda kan istilahnya? Yap, makanya kita perlu memperkaya pembendaharaan kata kita sedari sekarang agar tidak terjadi miss communication.

Jadi bagi kita yang masih kesulitan dalam berkomunikasi berbahasa inggris, Just let it go! Percaya diri aja, karena jika kita sering berkomunikasi dalam berbahasa inggris apalagi sama bule-bule, InsyaAllah kemampuan berbahasa inggris kita juga akan Level Up! Seiring dengan berjalanya waktu.

2. Adjusting with local cultures and norms over there.



Ketika ada bule yang pertama kali datang ke Indonesia, biasanya mereka langsung dihadapi sama yang namanya Shock Culture, entah itu dari makanan, lingkungan atau dari perilaku-perilaku masyarakat sekitar yang tidak mereka temukan sebelumnya dinegara asal mereka. Pengalaman yang paling menarik tentang penyesuaian para bule ini ketika berada di Indonesia adalah tentang makanan “PEDAS”. 

Yup! Awalnya mereka penasaran ingin mencoba masakan pedas ini, namun kemudian mereka malah kapok karena rasa pedas itu membuat mereka bergelimang air mata sampai mereka memperlihatkan muka polosnya yang sedang kepedasan. Lucu lah pokoknya kalo kalian diberi kesempatan melihat ekspresi kepedasan mereka itu.

Ternyata, setelah beberapa minggu sudah beradaptasi dengan makanan Indonesia termasuk makanan pedas. Sekembalinya mereka ke negara asalnya, mereka malah merindukan sensasi masakan pedas yang pernah mereka rasakan di Indonesia, malah temen bule saya sampai bilang ini ke orang tuanya ketika kembali ke Australia 


“Where is the spicy food? I missed them a lot!”

Ternyata dibalik pengalaman bergelimang air mata pada pertemuan pertama dengan si pedas, tapi si pedas juga membuat si bule rindu ya.

Selain tentang makanan, sebenarnya banyak hal yang menjadi Shock Culture bagi para bule ini. Seperti macet, perilaku masyarakat jawa yang murah senyum dan beraneka ragamnya Bahasa yang ada di Indonesia. Jadi kita sebagai temannya mereka, harus bisa mendampingi dan menjelaskan hal-hal yang ada di Indonesia kepada mereka dengan benar dong ya. Agar mereka lebih mudah beradaptasi dan menumbuhkan rasa cinta yang besar mereka terhadap Indonesia.

3. Different personality and self control.


Ingat… ingat, ketika kita berteman dengan para bule jangan biarkan gaya hidup kita juga ikut kebule-bulean. Kalian tahu sendiri kan kalau para bule itu biasanya suka minum-minum? Bukan air putih.. tapi air.. (ya kalian bisa tafsirkan sendiri) which is that drink is not allowed to drink in Islamic religion. Maka jadilah pribadi yang apa adanya dengan ciri khas ke Indonesiaan yang kalian miliki dan tunjukan kepada mereka bahwa kita memiliki karakter, adat istiadat dan kebudayaan dimana hal-hal tersebut tidak mereka jumpai di negaranya masing-masing. Mereka pastinya akan terkesan dan respect dengan “choice” kita itu kok.

4. Personal space



Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan personal space sebagai jarak/daerah disekitar individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.

Ini sangat berlaku bagi para bule loh kawans. Jadi apabila kita memiliki “habits” suka ngurusuin permasalahan orang lain, maka jangan sekali-kali mencoba untuk ikut campur dalam masalah teman bule kita ya. Bukannya menolong, tapi malah kita dianggap “annoying” bagi mereka. Kenapa? Karena pada saat-saat tertentu mereka ingin sendiri, menikmati hidup dan mengatasi masalahnya sendiri tanpa ada intevensi dari orang luar. 

Beda ceritanya jika mereka meminta kita untuk membantunya dalam mengatasi permasalahan yang mereka hadapi, barulah kita bantu mereka dengan kemampuan yang kita miliki. Jadi bacalah situasi dan cobalah untuk menjadi peka terhadap teman bulemu yaa. Jika kalian berhasil menerapkan ini maka akan membuat hubungan pertemanan kalian dengan si Bule menjadi sangat dekat.

5. Communicate norms/habit/local values



Sebenarnya di point ini hampir sama pembahasanya dengan point ke-2 pada artikel ini, tapi bedanya adalah di point ini saya ingin menjelaskan bagaimana cara kita untuk memberitahu si bule apa-apa saja sih norma-norma, kebiasaan ataupun adat istiadat yang ada di Indonesia? 

Tentunya setiap daerah memiliki kebiasaan dan adat dan istiadat yang berbeda-beda bukan? Jadi, walaupun misalnya kita memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi berbahasa inggris, maka jelaskan saja hal-hal yang baik kepada mereka dan biarkan mereka merasakan keanehan dan beradaptasi dengan sendirinya tentang shock culture yang mereka temui. 

Toh nantinya mereka akan paham juga kok kenapa sih orang-orang di jogja suka tersenyum ketika kita berpapasan, mereka juga akan paham dengan sendirinya kok kenapa ada tukang parkir liar disetiap warung makan, dan mereka pasti juga akan terbiasa kok dengan shock culture yang mereka temui di Indonesia.

Tapi alangkah baiknya lagi apabila kita bisa menjelaskan setiap detail shock culture kepada mereka, itu akan mempermudah mereka dalam proses adaptasi dengan keadaan lingkungan yang ada di Indonesia tentunya. 

Tapi menurut pendapat saya sih, tanpa perlu dijelaskan secara detail biarkan saja si para bule ini merasakan sendiri shock culture tersebut, biarkan mereka mengeksplor semua shock culture yang ada dan kemudian beradaptasi. Toh esensi travelling bagi para traveller adalah menjelajah segala tempat serta menjumpai segala hal-hal menarik ataupun tidak menarik dengan keunikan di daerah tujuannya bukan?


1 komentar:

  1. Even though I'm not sure what it means! I'm just touched by your writing skills, keep it up bro great work

    BalasHapus

Rakhmat's Home Enjoy!