:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Selasa, 29 Agustus 2017


Seperti yang sudah saya jelaskan pada artikel-artikel sebelumnya, energi merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Dimana kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan akan energi untuk kelangsungan kehidupan umat manusia mulai dari kebutuhan industri, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga. Berbicara tentang energi tidak lepas dari energi fosil (minyak dan gas bumi) yang hingga saat ini menjadi pemain utama dari kebutuhan energi di dunia dan tidak terkecuali juga di Indonesia.



Seiring berjalannya waktu, permintaan akan energi terutama minyak solar atau diesel di Indonesia cenderung terus meningkat. Sehingga dengan meningkatnya kebutuhan ini mengakibatkan Indonesia masih harus impor minyak tersebut. Melihat ketergantungan yang sangat tinggi dari minyak impor ini, sudah saatnya Indonesia mengkaji pemanfaatan gas khususnya LNG (Liquefied Natural Gas) sebagai sumber energi yang lebih murah, aman dan ramah lingkungan untuk menggantikan bahan bakar minyak, solar atau diesel.

LNG sendiri memiliki karakter yang mendekati karakter solar. Penggunaan LNG sangat cocok diaplikasikan pada alat berat atau heavy duty truck dibanding Compressed Natural Gas (CNG) karena seperti yang kita ketahui alat berat dan heavy duty truck membutuhkan energi besar dalam pengoperasiannya. Namun LNG membutuhkan tangki penyimpanan besar dan berat, sehingga pada saat ini baru heavy duty truck yang dianggap cocok menggunakan LNG. Untuk diketahui lebih lanjut bahwa tangki LNG terbuat dari logam khusus yang dapat menahan tekanan tinggi, tekanan maksimum pada tangki LNG mencapai 20 MPa, alias sekitar 45x tekanan ban mobil pada umumnya.

Gambar: Negara-negara yang memiliki cadangan gas alam terbukti terbesar (BP Statistical Review)

“Indonesia kaya akan minyak dan gas”, mungkin itu sebuah kalimat yang sudah menjadi mindset banyak orang Indonesia saat ini. Padahal pada kenyataannya tidaklah demikian. Untuk cadangan gas alam sendiri, Indonesia menempati posisi ke-14 dalam hal cadangan gas alam terbukti atau proved natural gas reserves (Data dari BP Statistical Review). 

Dari fakta tersebut, mungkin kita berpikir bahwa Indonesia termasuk kaya akan gas. Namun, menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, menunjukkan bahwa terdapat defisit antar Supply  dan Demand gas alam di Indonesia, yang berarti Supply gas alam di Indonesia lebih kecil daripada kebutuhan di Indonesia akan gas alam itu sendiri (Kementerian ESDM, 2012). Sehingga kedepannya konsumsi gas alam di Indonesia akan semakin meningkat yang akan mengakibatkan demand gas alam semakin meningkat.


Bila kita bandingkan dengan negara Malaysia, produksi gas alamnya jauh melampaui konsumsi gas alamnya. Pada tahun 2012, Malaysia memproduksi sekitar 2,1 juta barrel per hari dan hanya mengkonsumsi sekitar 1,1 juta barrel per hari.

Dengan fakta yang telah dipaparkan di atas dan dengan menyadari bahwa gas alam merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui dan akan habis nantinya bila diproduksi secara terus menerus, maka perlu kita diskusikan ulang orientasi pemanfaatan gas alam ini.


Menurut data energi mix Indonesia sampai saat ini minyak dan gas bumi masih menjadi sumber energi utama dengan kontribusinya yang lebih dari 50% menjadi sumber pemenuh kebutuhan energi Indonesia. Konsumsi migas tersebut kian meningkat dari tahun ketahun khususnya minyak bumi, sedangkan produksinya terus mengalami penurunan (Decline rate).


Pemilihan LNG atau Gas Alam Cair ini sebagai alternatif sumber energi dikarenakan adanya cadangan gas bumi nasional sebesar 150,39 TSCF (Triliun Standar Cubic Feet) per 2010, terdiri dari 101,54 TSCF cadangan terbukti (proven) dan 48,85 TSCF cadangan potensial (potential) (Kementerian ESDM RI, 2013). Cadangan gas tersebut lebih besar dari cadangan minyak bumi yang ada di Indonesia sebanyak total 7.549,81 MMTSB (Million Metric Stock Tank Barrels).

Cadangan gas bumi dalam jumlah yang besar sering ditemukan dilokasi terpencil yang jauh dari lokasi konsumen, seperti yang terlihat pada gambar diatas bahwa sumber terbesar Gas Bumi Indonesia berada di wilayah Papua.  Apabila secara ekonomis layak dan memungkinkan, gas bumi sebenarnya dapat ditransportasikan melalui pipa. Tetapi apabila sumber gas bumi dan konsumen dipisahkan oleh laut dan kepulauan bahkan dipisahkan oleh benua atau dipisahkan dari jarak dan kondisi alam yang tidak memungkinkan ditransportasikan melalui pipa, maka alternatif yang mungkin secara teknis dan layak secara ekonomis adalah dengan mencairkan gas bumi tersebut.

Bila didinginkan sampai temperatur -162˚C pada tekanan 1 atm, gas alam menjadi cair dan volumenya akan berkurang sampai dengan 600 kalinya.  Dengan pengurangan volume yang sangat besar tersebut, gas alam cair (LNG) dapat ditransportasikan secara ekonomis dalam tanker yang terisolasi.


Seperti terlihat pada tabel diatas, LNG mempunyai komposisi 87% - 96% methane, 1,8-5,1% ethane, 0,1-5,1% propane dan senyawa-senyawa lain. Komposisi dari gas alam (pembentukan LNG) bervariasi tergantung dari sumber dan proses pembentukannya. Gas Methane pada LNG mempunyai sifat tidak berbau, tidak berwarna, non-corrosive dan non-toxic (Air Products, 1999). LNG pada dasarnya adalah metode alternatif untuk mengirim gas dari produsen ke konsumen.

LNG mempunyai volume yang jauh lebih kecil yaitu 1/600 kalinya dibanding volume gas alam pada keadaan standar. Compressed Natural Gas (CNG) disimpan pada tekanan sekitar 250 Bar, sehingga volume CNG menjadi 1/250 kali dari gas alam pada kondisi standar. Hal ini membuat biaya untuk mengangkut LNG lebih efisien dibandingkan dengan biaya angkut CNG. Selain itu LNG lebih aman dibandingkan CNG karena selama transportasi, LNG dalam Isotank disimpan pada tekanan yang jauh lebih rendah yaitu 6-10 bar, dibandingkan CNG yang mencapai 250 bar.

Sumber: Kementerian ESDM Republik Indonesia

Saat ini LNG yang diproduksi di Indonesia belum banyak bisa dinikmati oleh masyarakat dan Industri di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM Republik Indonesia bahwa sekitar hampir 3.000 MMSCF LNG yang diproduksi pada tahun 2013, hampir 1.000 MMSCF diantaranya diekspor keluar negeri.

Salah satu faktor penyebab utama Indonesia belum bisa memanfaatkan LNG sebagai bahan bakar disebabkan karena usaha dari Pemerintah untuk mengenalkan LNG sebagai salah satu sumber energi yang bersih dan emisi rendah kepada masyarakat masih kurang maksimal, dan juga disebabkan oleh tidak adanya fasilitas infrastruktur yang mendukung. Sebagai gambaran, saat ini fasilitas loading yang dimiliki oleh produsen LNG di Indonesia hanya untuk tanker bermuatan besar (lebih dari 100.000 m3). Sehingga belum dapat dilakukannya loading LNG untuk kapasitas tanker kecil. Sedangkan untuk distribusi LNG menuju Industri yang ada di Indonesia, umumnya kapasitasnya kecil sampai dengan menengah yaitu kisaran 3.600 - 15.000 m3.

Untuk bisa memanfaatkan LNG untuk pasar domestik, saya rasa perlu dibangun fasilitas loading atau unloading agar LNG dapat dikirim dengan menggunakan tanker atau barge agar dapat didistribusikan dan dikonsumsi oleh Industri-industri yang ada di Indonesia. Konsumen Industri perlu diperkenalkan juga dengan teknologi converter kit untuk dapat menggunakan LNG pada mesin diesel ataupun power plant yang beroperasi dengan bahan bakar solar atau disel saat ini.

Converter kit merupakan perangkat atau alat tambahan untuk mengkonversi sebagian besar penggunaan bahan bakar dari solar atau diesel menjadi gas sehingga menjadi mesin berbahan bakar ganda atau dual fuel.


Penggunaan LNG sebagai bahan bakar mesin pertambangan atau industri dan juga PLTD dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak. Tentunya hal tersebut dapat dilakukan bila ditunjang dengan tersedianya fasilitas yang baik untuk distribusi LNG dari unit kilang LNG yang ada di Indonesia maupun unit converter kit sebagai alat penting untuk konversi BBM menjadi gas (LNG) sebagai bahan bakar yang akan digunakan pada mesin-mesin kendaraan. 

Nilai saving cost berdasarkan fuel consumption yang cukup tinggi dari LNG akan sangat bermanfaat sebagai sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak khususnya solar.

Untuk mengetahui informasi dan data lengkap terkait Energi, kalian dapat baca informasinya di www.esdm.go.id

Jangan lupa like foto poster saya terkait 15 Hari Cerita Energi di Instagram saya (dicantumkan pada foto diatas). Semoga informasinya bermanfaat! monggo komentar di weblog ini jika ada yang punya masukan, saran dan kritik. 

Terimakasih atas supportnya sampai hari ke-13 ini ya guys!

0 komentar:

Posting Komentar

Rakhmat's Home Enjoy!