:::: MENU ::::

Selamat datang di Weblog pribadi saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat ya kawans!

  • Apakah Saat Ini Indonesia Siap Menjadi Pemain Utama Pada Industri Mobil Listrik Nasional?

  • Kontroversi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Di Indonesia

  • Harga BBM Naik: Inilah Alasan Kenapa Subsidi BBM Harus Dikurangi

  • 6 Hal Yang Terjadi Jika Kita Mengaktifkan Energi Nuklir Di Indonesia

  • 7 Sumber Utama Energi Masa Depan

  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Program Listrik 35000 MW Era Pak Jokowi

  • Apakah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Efektif Jika Diterapkan Di Indonesia?

Rabu, 30 Agustus 2017


Pada artikel sebelumnya kita sudah banyak membahas tentang Energi Terbarukan sebagai energi alternatif pengganti energi-energi fosil, lalu kemarin juga kita sudah membahas tentang memaksimalkan pemanfaatan LNG sebagai subtitusi dari Bahan Bakar Solar atau Diesel. Sekarang saatnya saya mengajak kalian membahas tentang subisidi BBM di Indonesia. Apakah subsidi BBM tersebut masih efektif diberikan kepada masyarakat?

Sumber: https://superthowi.wordpress.com

Memang kondisi ekonomi dunia saat ini berada pada posisi tiga kejadian penting yaitu harga minyak dunia yang turun, dollar yang menguat dan revolusi shale gas oleh Amerika Serikat. Harga rata-rata minyak mentah dunia (crude oil price) beberapa tahun belakangan ini cenderung berfluktuasi dengan tolak ukur mengalami penurunan harga. Jadi penurunan harga minyak mentah dunia ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu salah satunya karena revolusi shale gas di Amerika Serikat. Shale gas adalah gas alam yang diperoleh dari serpihan batu shale atau tempat terbentuknya gas bumi.

Produksi Shale gas telah menyebabkan penurunan harga sumber energi lainnya. Karena ekspansi dan persediaan sumber energi Shale gas yang cukup melimpah serta Shale gas dianggap mampu menurunkan biaya produksi. Produksi Shale gas juga mampu meningkatkan ketahanan energi serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang mahal yaitu minyak bumi dan batubara. Revolusi shale gas ini akan berdampak sangat besar bagi Amerika Serikat terutama menguntungkan dalam membuka lapangan pekerjaan baru untuk negara tersebut.

Faktor lain yang menjadi penyebab turunnya harga minyak dunia yaitu karena adanya peningkatan produksi oleh negara yang tergabung dalam OPEC (Organization of The Petroleum Exporting Countries). Ketika produksi minyak mengalami peningkatan sementara permintaan minyak tidak mengalami perubahan atau konstan maka akan terjadi kelebihan produksi minyak yang mengakibatkan harga minyak tersebut akan turun (teori supply & demand).

Dalam sebuah siklus perekonomian hampir disetiap aspek kegiatan ekonomi membutuhkan energi atau bahan bakar minyak baik itu digunakan untuk menjalankan mesin produksi, penghasil energi listrik dan juga sarana transportasi yang dapat dijadikan sebagai pengalokasi barang dan jasa. Ketika terjadinya fluktuasi harga minyak mentah dunia maka akan berdampak kepada perubahan harga bahan bakar minyak di Indonesia karena mengikuti harga minyak mentah dunia. Pada saat kondisi sekarang ini apabila produksi minyak mentah berlimpah sementara kebutuhan minyak tidak bertambah atau justru berkurang, maka harga minyak cenderung turun.

Sumber: International Energy Agency

Pada gambar diatas sudah terlihat jelas bahwa grafik harga minyak mentah dunia dari tahun 2000 sampai 2016 mencapai puncak harga tertinggi pada tahun 2008, namun mengalami penurunan harga yang signifikan dari tahun 2014 sampai 2016 akhir. Mengingat pentingnya keberadaan bahan bakar minyak dalam kegiatan perekonomian, maka pemerintah perlu melakukan intervensi dan mengendalikan tingkat harga bahan bakar minyak agar bisa dibeli oleh masyarakat banyak.

Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan oleh pemerintah bagi penyediaan bahan bakar minyak yaitu berupa pemberian subsidi. Subsidi bahan bakar minyak yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia berawal pada masa pemerintahan orde baru dan sampai saat ini subsidi terhadap bahan bakar minyak masih diberlakukan, hanya saja subsidi yang diberikan oleh pemerintahan sekarang dikurangi.

Sumber: International Energy Agency

Pada gambar diatas menunjukan grafik subsidi bahan bakar minyak dan energi Indonesia dari tahun 2005 sampai 2016. Dari grafik tersebut menunjukan rasio antara subsidi bahan bakar minyak yang diberikan oleh pemerintah dan subsidi energi. Nilai rasio subsidi bahan bakar minyak dan subsidi energi berubah menjadi besar ketika terjadinya krisis ekonomi global.

Implikasi dari peningkatan harga minyak di pasar dunia, mengakibatkan pemerintah mengambil kebijakan menaikan harga BBM didalam negeri. Pada akhir tahun 2007 sampai dengan awal 2008, perekonomian dunia menghadapi krisis energi yang memicu peningkatan harga minyak dunia. Harga minyak dunia meningkat dari kisaran 60-65 US$ per barrel pada pertengahan tahun 2007 melonjak hingga di atas 100 US$ per barrel pada awal tahun 2008.

Di dalam negeri kenaikan harga minyak dunia direspon oleh pemerintah dengan menaikan harga BBM jenis premium dan solar yaitu dari IDR. 4000/liter menjadi IDR. 6000/liter. Peningkatan harga BBM tersebut menjadi kondisi yang sangat serius bagi pemulihan perekonomian nasional dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kebijakan subsidi BBM yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia membuat anggaran subsidi energi di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahun cenderung mengalami kenaikan. Besaran subsidi BBM dinilai menjadi alasan pokok tidak stabilnya keseimbangan primer APBN dari sisi pengeluaran sehingga dapat menimbulkan defisit anggaran pemerintah. Komsumsi yang berlebihan membuat Indonesia kini menjadi negara pengimpor minyak yang sangat tergantung dari fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Kenaikan harga BBM bersubsdi yang sering berfluktuasi serta di ikuti terdepresiasinya nilai mata uang rupiah yang akan berdampak kepada kerentanan terhadap kebijakan subsidi BBM di Indonesia. Kecenderungan subsidi yang meningkat tajam mencerminkan juga pada depresiasi rupiah yang ikut tajam.

Mengkonsumsi minyak yang bersubsidi mengarahkan kita pada peningkatan permintaan impor dan pengurangan jumlah minyak yang tersedia untuk di ekspor, sehingga subsidi dapat mengakibatkan memburuknya neraca pembayaran dan dapat mempengaruhi negara pada peningkatan ketergantungan impor minyak.

Ketakutan masyarakat Indonesia jika subsidi BBM dihapuskan adalah hal yang wajar saat ini, karena mereka khawatir hal tersebut akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Namun, dalam APBN 2017 sesungguhnya subsidi BBM Premium telah dievaluasi dan ternyata tidak tepat sasaran, maka dari hasil evaluasi tersebut pemerintah merancang ulang kebijakan subsidi BBM dan kemudian lahirlah bentuk subsidi yang benar-benar tepat sasaran.

Penghapusan dana subsidi BBM bukan berarti dana tersebut dipakai oleh pejabat-pejabat negeri (mungkin saja), melainkan dana tersebut diharapkan dapat dialokasikan pada bidang-bidang yang lebih produktif serta lebih tepat sasaran demi mewujudkan perekonomian Indonesia yang terintegritas serta memajukan kesejahteraan umum sesuai dengan cita-cita negara pada alinea IV Pembukaan UUD NKRI 1945.

Sumber: http://katadata.co.id

Dana subsidi BBM tersebut memang sebaiknya dialihkan pada pembangunan infrastruktur negara. Kita dapat bercemin pada kenaikan harga BBM tahun 2015. Walaupun hanya naik IDR. 2.000,- namun hal tersebut dapat menunjang berbagai pembangunan di negeri kita. Apalagi saat APBN 2017 yang merupakan penyempurnaan pada APBN pada tahun-tahun sebelumnya. Bisa dibayangkan berapa banyak infrastruktur yang dapat pemerintah perbaiki.

Selain itu, subsidi BBM akan dialokasikan juga untuk mengoptimalkan pemberian subsidi di bidang lain, yaitu menunjang kesejahteraan masyarakat miskin seperti pembiayaan Kartu Indonesia Sejahtera, Beras Sejahtera (Rastra), Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) serta berbagai skema kesejahteraan lainnya.

Yang paling menggembirakan adalah pada alokasi dana desa. Berdasarkan dokumen Nota Keuangan (NK) dan RAPBN 2017, alokasi dana desa tahun 2017 naik 27,7% (IDR. 47 triliun) dari tahun 2016 dengan mencapai IDR. 60 triliun (IDR. 800 juta/desa).


Persoalan subsidi BBM memang tak akan pernah habis untuk dituntas. Dengan beragam persoalan yang turut mempengaruhi kebijakan penarikan subsidi BBM, sudah seharusnya setiap pengusaha mentargetkan poin-poin penting demi menstabilkan usaha yang sedang dikelola. Di saat bersamaan, kontrol terhadap pemakaian BBM bersubsidi wajib diterapkan secara ketat sebab yang akan dirugikan adalah masyakarat yang notabene membutuhkan subdisi BBM.

Untuk mendapatkan informasi dan data yang lebih akurat tentang Energi, kalian bisa baca informasi selengkapnya di www.esdm.go.id ya.

Terimakasih atas supportnya sampai hari ke-14 ini guys!

#15HariCeritaEnergi

1 komentar:

Rakhmat's Home Enjoy!